Minggu, 23 November 2008

Seharusnya Pemerintah Turunkan Harga Solar

Seharusnya Pemerintah Turunkan Harga Solar
SEMARANG--MI: Pemerintah seharusnya menurunkan harga solar, bukan premium yang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap biaya distribusi barang kebutuhan, kata pengamat ekonomi Nugroho SBM.

"Kalau harga premium yang diturunkan, itu tidak akan mampu mendorong penurunan harga barang lainnya, apalagi kalau penurunannya hanya Rp500 per liter," katanya di Semarang, Sabtu (7/11).

Ia mengatakan, kalau pilihannya hanya satu antara premium atau solar yang harganya diturunkan, seharusnya pemerintah memilih solar yang lebih banyak dikonsumsi kendaraan umum dan angkutan barang.

Staf pengajar Fakultas Ekonomi Undip Semarang itu mengemukakan, sebagian besar angkutan barang dan angkutan umum menggunakan bahan bakar solar sehingga kebijakan menurunkan harga premium tidak akan menyentuh sasaran merangsang penurunan harga barang lainnya.

Ia mengatakan tidak tahu pertimbangan ekonomi pemerintah untuk menurunkan harga premium, sebab bahan bakar ini lebih banyak dikonsumsi kendaraan pribadi sehingga secara makro bakal menyedot subsidi bahan bakar minyak (BBM) sangat besar tanpa memiliki efek berantai (mutiplier effects) yang berarti.

"Saya malah melihat kebijakan ini lebih banyak didasari pertimbangan politik untuk kepentingan Pemilu 2009. Ini (penurunan harga premium) tidak lebih dari kosmestik politik menjelang Pemilu 2009," katanya.

Menurutnya, harga minyak dunia yang terpangkas hingga di bawah US$60 per barrel seharusnya tidak hanya menurunkan harga salah satu jenis BBM. "Seharusnya secara bersamaan harga solar juga bisa di bawah Rp5.500 per liter," ujarnya.

Ia menambahkan, penurunan Rp500 per liter untuk premium tidak akan memiliki pengaruh berarti terhadap harga barang lainnya. "Kalau pun ada terhadap penurunan harga barang lainnya, itu sangat kecil," kata Nugroho.

Rencana pemerintah menurunkan harga premium per 1 Desember 2008 menjadi Rp5.500 dari Rp6.000 per liter, disambut dingin warga Kota Semarang.

Suparman, 58, warga Tembalang Semarang semula mengira harga premium bakal menjadi Rp4.500 atau Rp5.000, namun ternyata hanya turun Rp500 per liter. Alwi, juga warga Tembalang juga menyatakan tidak yakin harga barang kebutuhan akan ikut-ikutan turun setelah pemerintah memotong harga premium menjadi Rp5.500 per liter.

"Sangat jarang ada produsen mau menurunkan harga, sebab kalau harga diturunkan, mau naik lagi lebih sulit. Padahal tidak ada yang bisa menjamin harga BBM tidak akan naik lagi," kata pengusaha itu. (Ant/OL-01)

tersedia di http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDI0MDQ=

Pemerintah Bakal Direpotkan Ulah Spekulan Minyak Internasional

Kapanlagi.com - Ulah spekulan yang menguasai perdagangan minyak internasional dikhawatirkan merepotkan pemerintah dan DPR pada tahun depan karena harus merevisi berulang kali asumsi harga minyak dalam RAPBN 2009, kata ekonom Undip Semarang, Nugroho SBM, Jumat (15/08/08).

"Tahun ini, 2008, memberi pelajaran penting bagi pemerintah dan DPR, betapa fluktuasi harga minyak bukan diakibatkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia," katanya menanggapi RAPBN 2009.


Pemerintah mengusulkan besaran asumsi harga minyak mentah dalam RAPBN 2009 senilai 140 dollar AS/barrel, seperti disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu di Jakarta, Kamis.


APBN Perubahan 2008 menetapkan asumsi harga minyak 95 dollar AS, sedangkan realisasi selama semester I 2008 senilai 109,4 dollar. Perkiraan selama semester II sebesar 145,0 dollar AS dan realisasi selama 2008 diperkirakan mencapai 127,2 dollar AS.


Nugroho mengemukakan, ketika APBN 2008 disusun, tidak ada yang memprediksi harga minyak mentah dunia bakal meroket hingga 150 dollar AS/barrel karena tidak ada faktor fundamental yang mendorong kenaikan harga secara luar biasa.


Ketegangan politik di sejumlah kawasan, termasuk Timur Tengah memang terjadi, namun menurut dia, hal itu merupakan masalah klasik dan bukan menyebabkan terganggunya distribusi dan eksplorasi minyak.


"Kenaikan beberapa waktu lalu murni akibat ulah spekulan dengan menciptakan informasi yang mendorong orang untuk memaklumi kenaikan harga minyak," katanya. Kala itu diembuskan isu bahwa harga minyak akhir tahun 2008 bisa menembus 200 dollar AS/barrel.


Menurut kandidat doktor itu, negara pengekspor minyak (OPEC) mengatakan produksi mereka mencukupi kebutuhan pasar dan selama itu juga tidak terjadi lonjakan permintaan.


"Saya kira pengusaha minyak dari AS dan Arab menjadi bagian dari skenario mendongkrak kenaikan harga minyak dunia, dan mereka meraih keuntungan besar," katanya.


Karena fluktuasi harga minyak tidak lagi hanya ditentukan oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, katanya, maka sulit bagi pemerintah untuk menetapkan besar asumsi harga minyak pada RAPBN 2009.


Akan tetapi, katanya lagi, penetapan asumsi harus tetap dilakukan karena menjadi bagian dari penerimaan dan besaran subsidi harga BBM yang bakal digelontorkan kepada rakyat.


Ia menilai, asumsi harga minyak 140 dollar AS/barrel pada RAPBN 2009 merupakan angka yang moderat meskipun kecenderungan belakangan ini harga minyak melemah. Oleh karena itu, katanya, APBN 2009 nanti juga bisa mengalami beberapa kali perubahan.


Nugroho menyarankan pemerintah agar terus memperbesar penerimaan dari sektor pajak dan nonpajak, sebab potensi pajak selama ini belum tergarap optimal, apalagi produksi minyak juga tidak lagi mencukupi memenuhi kebutuhan domestik sehingga harus impor. Akibatnya, pemerintah memberi subsidi harga BBM sangat besar.


Pemerintah, katanya, juga harus lebih serius mengawasi jumlah produksi minyak (lifting) karena bisa jadi antara yang dihasilkan dengan yang dilaporkan berbeda sehingga merugikan negara. (*/lin)


DAPAT DIAKSES DI http://www.kapanlagi.com/h/0000245054.html

LAGI-LAGI RENOVASI DAN RELOKASI PASAR

LAGI-LAGI RENOVASI DAN RELOKASI PASAR

Oleh: Nugroho SBM

Lagi-lagi masalah relokasi dan renovasi pasar. Begitulah kira-kira reaksi masyarakat jika membaca tentang ribut-ribut masalah rencana relokasi pasar ayam Rejomulyo Semarang. Ribut-ribut tersebut berupa penolakan sebagian besar pedagang di pasar ayam Rejomulyo untuk pindah. Ribut-ribut itu mencapai puncaknya ketika sosialisasi yang dilakukan oleh Pemkot Semarang yang dipimpin oleh Sekretaris Kota Semarang Soemarmo ricuh. Sosialisasi ricuh dan gagal setelah para pedagang meninggalkan pertemuan dan justru memilih berdemonstrasi di depan gedung rapat paripurna DPRD Kota Semarang.
Sebagaimana diketahui alasan utama Pemkot memindah Pasar Ayam Rejomulyo adalah pencemaran lingkungan akibat limbah pemotongan ayam di pasar tersebut. Di samping itu bahaya penyakit misalnya flu burung yang sewaktu-waktu bisa menyebar. Dari alasan yang dikemukakan ini, sebenarnya alasan Pemkot Semarang sangat rasional dan demi kepentingan umum yang lebih besar yaitu penduduk yang sangat padat yang bermukim di sekitar pasar Rejomulyo.
Kembali kepada masalah relokasi Pasar Ayam Rejomulyo, jika kita mau belajar dari kasus-kasus yang terjadi dalam renovasi maupun relokasi pasar tradisional maka ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran agar relokasi Pasar ayam Rejomulyo berjalan sukses. Pertama, kunci sukses dalam relokasi dan renovasi pasar tradisional adalah bagaimana mensosialisasikan hal tersebut kepada para pedagang yang ada di dalam pasar tersebut. Seperti terungkap di media massa, keberatan para pedagang ayam di Pasar Rejomulyo adalah karena jarak antara sosialisasi (pemberitahuan) yang dilakukan Pemkot Semarang dengan rencana relokasi begitu dekat dan mendadak. Para pedagang mengaku tidak tahu menahu rencana relokasi tersebut jauh hari sebelumnya. Maka jika ingin relokasi sukses, Pemkot harus sabar untuk melakukan sosialisasi dalam jangka panjang dengan melakukan pendekatan terhadap beberapa tokoh yang menjadi panutan pedagang misalnya ketua paguyuban pedagang ayam dan para sesepuh.

Faktor Lokasi
Rahasia sukses kedua, adanya jaminan dari Pemkot bahwa para pedagang dapat menempati lokasi yang baru dan lokasi baru tersebut menjamin akses yang mudah bagi pembeli. Selama ini baik renovasi maupun relokasi pasar tradisional gagal karena pasar hasil renovasi atau relokasi biaya sewa atau harga beli kios atau lapaknya mahal. Akibatnya pedagang lama tidak bisa masuk ke pasar hasil relokasi dan renovasi tersebut. Maka salah satu daya tarik agar para pedagang mau pindah dan menempati pasar yang baru Pemkot harus menjelaskan bahwa biaya menempati los atau lapak di pasar yang baru adalah murah. Dapat diaksesnya lokasi pasar hasil relokasi juga merupakan faktor yang penting. Ditinjau dari aspek ini, lokasi pasar yang baru sebagai pengganti Pasar Rejomulyo yaitu di Rumah Pemotongan Unggas (RPU) Penggaron, tidak memenuhi syarat. Lokasi pasar yang baru di penggaron sangat jauh sehingga bisa dimaklumi kalau para pedagang menolak
Jalan ke luar dari masalah lokasi ini adalah Pemkot hendaknya mencari lokasi yang dapat dijangkau oleh para pembeli dengan mudah. Mungkin bisa ditempuh tukar guling antara lahan milik Pemkot dengan lahan milik perorangan yang lokasinya mudah dijangkau oleh pembeli. Kesulitannya mungkin Pemkot tidak punya lahan untuk ditukar dan bila ada mungkin nilainya lebih rendah dari lahan milik perorangan yang lokasinya lebih strategis sehingga harus ada dana talangan dari APBD. Untuk mendapatkan alokasi dana dari APBD bukanlah barang mudah karena harus ada persetujuan dari DPRD. Oleh karena itu, dalam jangka panjang Pemkot Semarang harus punya Bank Lahan. Yang dimaksud adalah Pemkot harus punya simpanan lahan yang diperoleh dengan cara membeli lahan-lahan milik perorangan. Bank lahan ini akan sangat berguna bila sewaktu-waktu Pemkot membutuhkan lahan untuk membangun sarana dan prasarana publik.
Masalah lain yang sering terjadi dalam khususnya relokasi pasar adalah adanya “misteri lokasi pasar”. Maksudnya seringkali lokasi pasar yang baru tidak jauh dari pasar yang lama tetapi pasar yang baru tersebut menjadi sepi. Penjelasan rasional dari hal ini mungkin adalah masalah kebiasaan para konsumen untuk menyesuaikan dengan lokasi yang baru.
Akhirnya, masalah relokasi dan renovasi pasar memang harus dilakukan dengan hati-hati. Jika tidak, akibatnya bisa fatal. Seorang perencana kota pernah mengatakan bahwa pasar mirip dengan kubangan air yang di dalamnya hidup berbagai jasad renik. Memindahkan kubangan atau mengeringkan kubangan tersebut akan mematikan jasad-jasad renik tersebut. Analoginya, pasar merupakan tempat banyak orang mencari nafkah. Demikian pula di Pasar Ayam Rejomulyo. Ada pedagang ayam, ada kuli angkut, ada tukang becak, ada mobil-mobil pengankut, tukang parkir, warung-warung makan, dan pemotong ayam. Jika tidak hati-hati memindahkan Pasar Rejomulyo maka nafkah dari sekian banyak orang itu akan hilang. Dan jika terjadi demikian maka itu adalah kesalahan kebijakan yang tak terampunkan.

(Nugroho SBM, Staf Pengajar FE Undip Semarang)

Minggu, 14 September 2008

Komentar di Media Massa

KUR Jateng Tembus Rp1,2 T

Thursday, 04 September 2008

SEMARANG(SINDO) – Realisasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) Jateng hingga Agustus mencapai lebih dari Rp1,279 triliun untuk 235.373 debitur UMKM.

Realisasi tersebut hanya meningkat 10% dibanding Juli 2008 yang mencapai Rp1,16 triliun. Data dari Dinas Koperasi dan UMKM Jateng mencatat PT Bank BRI menyalurkan KUR terbanyak yang mencapai Rp998,603 miliar atau hampir 78% dari total penyaluran KUR.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng Abdul Sulhadi mengatakan, pencapaian tersebut memang masih jauh dari keinginan sebab jumlah UMKM di Jateng saat ini mencapai Rp2,6 juta. Namun,Sulhadi mengakui tidak semua UMKM tersebut mampu dijangkau oleh para pelaku perbankan.

”Memang perbankan kan tidak dididik untuk menjadi kreditur bagi para UMKM gurem. Jadi,wajar kalau mungkin ada beberapa UMKM yang belum terlayani,” katanya kemarin. Sulhadi juga memaklumi sikap perbankan yang lebih berhati- hati dalam menyalurkan kredit. Para perbankan lebih nyaman untuk menawarkan kredit kepada para nasabah lamanya yang mempunyai track record yang baik.

”Mereka mungkin akan berpikir untuk menawarkan kredit itu kepada nasabah lama ketimbang mencari nasabah baru.Mereka mungkin juga tidak ingin menanggung risiko,”jelasnya. Melihat pertumbuhan penyaluran KUR yang tidak terlalu cepat, Sulhadi berencana akan menjalankan program akselerasi atau percepatan untuk membantu para UMKM yang bankable namun belum terfasilitasi.

”Kita berencana akan menggandeng bank daerah yang mempunyai kemampuan dan berkeinginan untuk ikut membantu permodalan UMKM.Tetapi secara teknis masih harus dipertimbangkan lagi,”paparnya. Selain menggandeng bank daerah, Sulhadi juga menyebut lembaga koperasi akan turut menyalurkan permodalan bagi UMKM. ”Mungkin ini bisa disebut dengan KUR lokal,”ungkapnya.

Pengamat ekonomi Undip Nugroho SBM memilih adanya lembaga penjamin kredit di tingkat daerah sebagai solusi untuk mempercepat penyaluran KUR kepada para UMKM. Menurutnya, dengan adanya lembaga tersebut, bank tidak lagi khawatir ada kredit macet.

”Baiknya badan penjamin kredit yang dulu pernah diwacanakan di Jateng segera direalisasikan karena itu sangat membantu para UMKM mendapatkan kredit,”terangnya. (sari septiyaningtias)

Rabu, 03 September 2008

Pemerintah Bakal Diributkan Spekulan Minyak Internasional

Jum'at, 15 Agustus 2008 17:19

Kapanlagi.com - Ulah spekulan yang menguasai perdagangan minyak internasional dikhawatirkan merepotkan pemerintah dan DPR pada tahun depan karena harus merevisi berulang kali asumsi harga minyak dalam RAPBN 2009, kata ekonom Undip Semarang, Nugroho SBM, Jumat (15/08/08).

"Tahun ini, 2008, memberi pelajaran penting bagi pemerintah dan DPR, betapa fluktuasi harga minyak bukan diakibatkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia," katanya menanggapi RAPBN 2009.

Pemerintah mengusulkan besaran asumsi harga minyak mentah dalam RAPBN 2009 senilai 140 dollar AS/barrel, seperti disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu di Jakarta, Kamis.

APBN Perubahan 2008 menetapkan asumsi harga minyak 95 dollar AS, sedangkan realisasi selama semester I 2008 senilai 109,4 dollar. Perkiraan selama semester II sebesar 145,0 dollar AS dan realisasi selama 2008 diperkirakan mencapai 127,2 dollar AS.

Nugroho mengemukakan, ketika APBN 2008 disusun, tidak ada yang memprediksi harga minyak mentah dunia bakal meroket hingga 150 dollar AS/barrel karena tidak ada faktor fundamental yang mendorong kenaikan harga secara luar biasa.

Ketegangan politik di sejumlah kawasan, termasuk Timur Tengah memang terjadi, namun menurut dia, hal itu merupakan masalah klasik dan bukan menyebabkan terganggunya distribusi dan eksplorasi minyak.

"Kenaikan beberapa waktu lalu murni akibat ulah spekulan dengan menciptakan informasi yang mendorong orang untuk memaklumi kenaikan harga minyak," katanya. Kala itu diembuskan isu bahwa harga minyak akhir tahun 2008 bisa menembus 200 dollar AS/barrel.

Menurut kandidat doktor itu, negara pengekspor minyak (OPEC) mengatakan produksi mereka mencukupi kebutuhan pasar dan selama itu juga tidak terjadi lonjakan permintaan.

"Saya kira pengusaha minyak dari AS dan Arab menjadi bagian dari skenario mendongkrak kenaikan harga minyak dunia, dan mereka meraih keuntungan besar," katanya.

Karena fluktuasi harga minyak tidak lagi hanya ditentukan oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, katanya, maka sulit bagi pemerintah untuk menetapkan besar asumsi harga minyak pada RAPBN 2009.

Akan tetapi, katanya lagi, penetapan asumsi harus tetap dilakukan karena menjadi bagian dari penerimaan dan besaran subsidi harga BBM yang bakal digelontorkan kepada rakyat.

Ia menilai, asumsi harga minyak 140 dollar AS/barrel pada RAPBN 2009 merupakan angka yang moderat meskipun kecenderungan belakangan ini harga minyak melemah. Oleh karena itu, katanya, APBN 2009 nanti juga bisa mengalami beberapa kali perubahan.

Nugroho menyarankan pemerintah agar terus memperbesar penerimaan dari sektor pajak dan nonpajak, sebab potensi pajak selama ini belum tergarap optimal, apalagi produksi minyak juga tidak lagi mencukupi memenuhi kebutuhan domestik sehingga harus impor. Akibatnya, pemerintah memberi subsidi harga BBM sangat besar.

Pemerintah, katanya, juga harus lebih serius mengawasi jumlah produksi minyak (lifting) karena bisa jadi antara yang dihasilkan dengan yang dilaporkan berbeda sehingga merugikan negara. (*/lin)

Tersedia di http://www.kapanlagi.com/h/0000245054.html

Kamis, 03 Juli 2008

PEMROTES KENAIKAN HARGA BBM TAK PUNYA SOLUSI MEYAKINKAN

PEMROTES KENAIKAN HARGA BBM TAK PUNYA SOLUSI MEYAKINKAN
23 May 2008

Semarang, 23/5 (ANTARA) - Pemrotes rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak memiliki solusi meyakinkan untuk menutup defisit anggaran bila pemerintah tetap bertahan dengan harga BBM bersubsidi seperti saat ini.
Ekonom Universitas Diponegoro Semarang, Nugroho SBM ketika dihubungi di Semarang, Jumat, mengatakan, para politikus, aktivis LSM, dan kalangan lain menolak dengan alasan kenaikan harga BBM memberatkan rakyat.
"Akan tetapi mereka tidak memiliki solusi realistis untuk bisa keluar dari tekanan harga BBM dunia," katanya.
Menurut dia, harga minyak dunia yang terus melambung -- kini sudah menyentuh 135 dollar AS per barrel -- akan semakin menekan APBN 2008 apalagi Indonesia kini bukan lagi pengekspor murni minyak bumi.
Kebutuhan BBM per hari sekitar 1,4 juta barrel, sedangkan konsumsi domestik sekitar 927.000 barrel.
Ia mengingatkan, pemerintah membutuhkan solusi jangka panjang yang bisa menyelamatkan perekonomian nasional. "Kalau harga BBM bersubsidi tidak dinaikkan, beban subsidi pada APBN 2008 bisa mencapai lebih dari Rp200 triliun," katanya.
Solusi yang ditawarkan politikus, seperti menerapkan pajak progresif untuk mobil mewah, menurut dia, sama sekali tidak menjawab persoalan yang dihadapi APBN 2008 yang berada dalam bayang-bayang melambungnya harga BBM dunia saat ini.
"Saya melihat rencana menaikkan harga BBM sekarang sudah menjadi isu dan komoditas politik. Mereka mencoba mengambil keuntungan politis dengan rencana itu tanpa menawarkan solusi realistis dalam menghadapi situasi sulit seperti sekarang ini," katanya.
Bila para politikus memang tidak menghendaki pemerintah mengurangi subsidi BBM, menurut dia, mereka seharusnya tegas menolak mengikuti studi banding dan kunjungan kerja yang memakan biaya amat besar.
Akan tetapi di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang, para wakil rakyat tetap melakukan studi banding dengan hasil yang tidak jelas.
"Banyak dana APBN maupun APBD untuk keperluan perjalanan dinas kalangan eksekutif dan legislatif. Inilah yang harus dipangkas," katanya.
Empati dari pejabat eksekutif dan legislatif tersebut, menurut dia, sampai sekarang tidak terlihat. Para politikus terus memilih berteriak keras menentang penolakan pengurangan subsidi BBM tanpa memberi solusi jitu.
Nugroho mengatakan, penghematan anggaran melalui penundaan proyek noninfrastruktur, seperti renovasi dan pembangunan gedung pemerintah yang baru, memang harus dilakukan namun jumlah anggaran yang bisa dihemat tidak akan terlalu besar.
"Sangat tidak bijaksana, bahkan berbahaya bila pemerintah sampai membatalkan pembangunan infrastruktur gara-gara anggarannya untuk menutup subsidi harga BBM yang terus membengkak," katanya.
Akhir pekan lalu (18/5) Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir mengusulkan pemotongan 30 persen gaji pejabat eksekutif dan legislatif, sebagai salah satu solusi agar pemerintah tidak menaikkan harga BBM.
APBN 2008 bakal menggelontorkan subsidi BBM Rp190,5 triliun dengan asumsi harga BBM 110 dollar AS per barrel, namun besaran subsidi bakal melambung di atas Rp200 triliun bila harga BBM dunia terus menanjak. ***8***


(U.A030/B/S011/S011) 23-05-2008 14:37:17

tersedia di

http://promojateng-bikk.com/berita.php?id=5463

Kamis, 26 Juni 2008

Komentar di Media: Padat Karya Lebih Bermanfaat

Program Padat Karya Lebih Bermartabat
oleh ant pada 13-05-2008

SEMARANG (Joglosemar): Program pengurangan dampak terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kepada keluarga miskin sebaiknya tidak diwujudkan dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT), tetapi berupa padat karya yang lebih bermartabat.
”Pemberian BLT tidak mendidik. Orang merasa terhormat mendapatkan uang karena bekerja, tidak menerima begitu saja,” kata pengamat ekonomi Universitas Diponegoro Semarang Nugroho SBM ketika diminta tanggapan rencana pemerintah menaikkan harga BBM, di Semarang, Minggu (11/5).
Menurut dia, pemerintah saat ini memang menghadapi dilema. Di satu sisi kenaikan harga minyak dunia bakal membengkakkan anggaran subsidi APBN 2008, sementara di sisi lain beban rakyat bertambah berat bila pemerintah mengurangi subsidi dengan konsekuensi menaikkan harga BBM.
Kelompok masyarakat bawah, kata Nugroho, memang harus diselamatkan dengan program jaring pengaman sosial, misalnya berupa program padat karya yang pernah ditempuh pada awal krisis tahun 1998.
“Program padat karya memberi efek ganda, yakni menambah pendapatan keluarga miskin dan membaiknya sarana serta prasarana lingkungan peserta program padat karya itu berada,” katanya.
Selain itu, kata dia, program padat karya juga memperkecil kecemburuan orang lain yang kondisi ekonominya pas-pasan namun tidak dijangkau program jaring pengaman sosial tersebut.
Menurut dia, BLT hanya cocok diberikan kepada orang-orang yang secara fisik tidak lagi kuat bekerja, seperti manula atau mereka yang mengalami cacat fisik sehingga tidak mampu mengikuti program padat karya.
Bila pemerintah nantinya memberikan BLT Rp 100.000 per bulan, kata Nugroho, itu berarti sebulan mereka hanya terikat mengikuti program padat karya empat hari dengan asumsi sehari dibayar Rp25.000. ”Sisa waktu lainnya digunakan bekerja seperti biasa,” katanya.