EKONOMI 2009: MESKI BERAT HARUS TETAP OPTIMIS
Oleh: Nugroho SBM
Meski terlambat, membicarakan prospek ekonomi Indonesia 2009 tetap menarik. Berikut ulasan singkat tentang prospek ekonomi Indonesia 2009 tersebut.
Ada teori intelejen yang mengatakan bahwa untuk mempengaruhi publik buatlah kabar burung atau isu. Kemudian jika semua orang berpikir bahwa isu itu benar maka semua orang akan mengantisipasinya. Karena semua orang berbuat demikian maka hal yang dulunya merupakan kabar burung menjadi kenyataan seperti yang diharapkan oleh si pembuat kabar burung itu.
Hal demikian mungkin akan terjadi jika kita mendengar, melihat, ataupun membaca berita-berita seputar prospek ekonomi Indonesia tahun 2009. Hampir semua pengamat ekonomi dan juga hasil studi berbagai lembaga riset ekonomi menyatakan bahwa perekonomian Indonesia tahun 2009 akan suram dan lebih berat dari bulan-bulan akhir tahun 2008 dimana krisis keuangan global dampaknya mulai terasa bagi ekonomi Indonesia.
Banyak prediksi yang menyatakan bahwa perekonomian Indonesia di tahun 2009 hanya akan tumbuh sekitar 4 sampai 5 persen. Bahkan sebuah lembaga riset luar negeri memperkirakan bahwa perekonomian Indonesia di tahun 2009 hanya akan tumbuh 3,5 persen. Satu-satunya angka pertumbuhan ekonomi yang optimis hanya ditemui pada asumsi RAPBN 2009 dimana angka pertumbuhan ekonomi 2009 dipatok sebesar 6,2 persen
Gambaran suram tentang pertumbuhan ekonomi 2009 tersebut masih ditambah dengan gambaran tentang pengangguran yang diramalkan akan bertambah dengan 1 juta orang sehingga total penganggur terbuka Indonesia menjadi 10 juta orang. Penganggur terbuka ini diprediksi berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi yang rendah (4 sampai 5 persen) dan adanaya kenyataan bahwa kulitas pertumbuhan ekonomi yang dikaitkan dengan penyerapan tenaga kerja makin rendah. Kalau di awal-awal sebelum krisis tahun 1997/1998 satu persen pertumbuhan ekonomi menciptakan lapangan kerja bagi 400.000 orang maka saat ini satu persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menciptakan lapnagan kerja baru bagi 200.000 orang (meskipun muncul pernyataan "aneh" dari Wapres Jusuf Kalla bahwa pertumbuhan ekonomi 1 persen bisa mencipatakan lapangan kerja bagi 700.000 orang, tetapi saya tidak percaya karena dasarnya tidak jelas). Makin kecilnya lapangan kerja yang diciptakan oleh pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh makin padat modalnya teknologi yang dipakai oleh perusahaan karena makin "susah" mengurus tenaga kerja akibat UU dan Peraturan Ketenagakerjaan yang makin ketat.
Namun, jika semua orang berpikir bahwa perekonomian Indonesia akan terpuruk di tahun 2009 maka saya khawatir bahwa hal itu benar-benar terjadi seperti teori intelejen yang dikutip pada awal tulisan ini. Maka sebenarnya menggambarkan ekonomi Indonesia di tahun 2009 supaya tidak benar-benar terpuruk adalah: Kondisi ekonomi 2009 memang akan berat tetapi semua pihak haruslah tetap optimis.
Dasar-dasar Optimisme
Kalau dikatakan harus optimis, memang ada dasar-dasar untuk optimis dengan melihat tren (kecenderungan) beberapa indikator ekonomi makro baik nasional maupun dunia di tahun 2008 khususnya pada bulan-bulan akhir. Pertama, penurunan harga minyak dunia yang kemudian stabil pada harga yang rendah. Pada saat tulisan ini dibuat harga minyak dunia sekitar 45 dolar AS per barel. Rendahnya harga minyak ini merupakan "berkah" bagi perekonomian Indonesia.Momentum ini sudah dimanfaatkan secara benar oleh pemerintah dengan menurunkan lagi harga premium menjadi Rp 5.000 per liter dan menurunkan harga solar menjadi Rp 4.800 per liter. Penurunan harga BBm di dalam negeri pada gilirannya akan ikut mendorong bergeraknya sektor riil dan menahan daya beli rakyat supaya tidak turun lebih rendah lagi.
Kedua, harga beberapa komoditas pertanian dan perkebunan yang merupakan andalan ekspor Indonesia yang sempat turun tajam kini kembali mulai ada gejala-gejala kenaikan kembali. Misalnya harga minyak sawit mentah (CPO) yang sempat anjlok mencapai harga terendah 435 dolar AS per ton, kini mulai naik menjadi sekitar 480 dolar AS per ton. Kenaikan harga komoditas pertanian dan perkebunan di pasar dunia di samping bisa menggairahkan ekspor non-migas Indonesia, juga membuat resiko kredit macet di sektor perkebunan juga akan berkurang
Ketiga, beberapa komponen pengeluaran yang membentuk produk domestik bruto Indonesia selama tahun 2008 ternyata juga masih tumbuh positif. Pertumbuhan positif komponen pengeluaran ini membuat pertumbuhan ekonomi tahun 2008 secara keseluruhan bisa mencapai 6 persen (meskipun masih lebih rendah dibanding asumsi APBN 2008 sebesar 6,4 persen). Pertumbuhan beberapa komponen pengeluaran tersebut adalah: konsumsi rumah tangga (5,3 persen), investasi (12 persen), pengeluaran pemerintah (16,9 persen), dan ekspor (14,3 persen).
Keempat, struktur perbankan Indonesia ternyata juga semakin kokoh. Berbeda dengan ketika krisis tahun 1997 dimana terlihat sekali bahwa kondisi perbankan kita sangat keropos, maka tahun 2008 ini terlihat bahwa perbankan tidak goyah menghadapi krisis keuangan global yang dipicu oleh krisis di AS. Pada krisis kali ini tak ada lagi kredit macet yang menggelembung dan kepanikan masyarakat untuk menarik dananya (Rush) dari bank-bank umum.
Prediksi 2009
Bagaimana kondisi ekonomi 2009? Pertama, saya setuju bahwa pertumbuhan ekonomi akan berkisar antara 4 sampai 5 persen. Beberapa komponen pengeluaran yang membentuk produk dometik bruto Indonesia masih tetap memegang peranan penting. Pengeluaran konsumsi rumah tangga yang sampai saat ini menyumbang 65 persen pembentukan PDB Indonesia masih tetap akan tumbuh minimal seperti tahun 2008 sekitar 5 persen. Maka bisnis barang-barang konsumsi rumahtangga seperti barang-barang elektronik, mebel dan kendaraan bermotor masih tetap akan prospektif di tahun 2009.
Hanya yang perlu diwaspadai adalah kalau pertumbuhan konsumsi rumahtangga tersebut dibiayai dari kredit. Dari simulasi hasil kajian Depkeu tentang Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) Ekonomi Makro Indonesia yang saya lihat baru-baru ini terlihat bahwa kredit domestik mulai menunjukkan "lampu kuning" menuju ambang batas krisis. Maka dituntut kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit konsumsi di tahun 2009.
Kedua, tingkat inflasi di tahun 2009 bisa lebih rendah dari tahun 2008. Memang inflasi di tahun 2008 mencapai 12 persen lebih. tetapi di tahun 2009 diperkirakan inflasi hanya sekitar 7 sampai 8 persen. Ada beberapa faktor mengapa inflasi 2009 lebih rendah, antara lain: sentimen positif karena penurunan harga BBM, terkendalinya harga pangan, serta faktor-faktor yang lain. Penurunan inflasi ini akan memberi ruang yang cukup kondusif bagi BI untuk terus menurunkan BI Ratenya. Saat ini memang BI rate sudah turun kembali ke posisi 9,25 persen. Namun suku bunga patokan setinggi itu masih terlalu tinggi bagi perbankan untuk dapat menurunkan suku bunga pinjamannya sehingga investasi kembali dapat dipacu.
Ketiga, Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan mencapai keseimbangan baru di kisaran 10.000 sampai 11.000 rupiah per dolar AS. Angka tersebut diperoleh dari kisaran nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang stabil pada nilai tersebut. Tidak mungkin lagi kembali ke keseimbangan lama di kisaran 9.500 rupiah per dolar AS. Dalam hal ini asumsi APBN sebesar Rp 9.400 per dolar AS perlu direvisi. Yang perlu dilakukan oleh BI adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada keseimbangan baru tersebut. Upaya menjaga stabilitas ini didukung oleh tingkat inflasi yang diprediksi rendah, naiknya permintaan rupiah karena pertumbuhan ekonomi domestik, dan penurunan kebutuhan dolar AS karena puncak permintaannya sudah berlalu (yaitu di akhir tahun 2008 untuk kebutuhan liburan dan penyelesaian berbagai kontrak bisnis di akhir tutup buku).
Sebagaimana diketahui, bagi dunia bisnis stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang lebih penting daripada tinggi-rendahnya. Nilai tukar yang tidak stabil akan menyulitkan dunia bisnis untuk melakukan perencanaan. Bagi BI dan pemerintah, stabilitas nilai tukar juga akan mengurangi ancaman spekulasi.
Kesimpulan dari prediksi ekonomi 2009 adalah ada optimisme meskipun kondisinya cukup berat. Di samping optimis kita perlu waspada terhadap beberapa hal. Pertama, dunia usaha atau bisnis di Indonesia perlu terus mencermati dan mewaspadai indikator-indikator ekonomi makro baik Indonesia maupun dunia. Pengalaman 2 kali krisis menunjukkan betapa indikator ekonomi makro sangat mempengaruhi dunia bisnis. Berkutat hanya pada skala mikro di dalam perusahaan tidaklah cukup. Ini sekaligus merupakan tantangan bagi pendidikan bisnis untuk memasukkan aspek-aspek lingkungan usaha secara makro. Sayang, pendidikan Magister Manajemen di FE Undip misalnya, justru menghapus mata kuliah yang terkait dengan aspek lingkungan usaha secara makro dan kembali memfokuskan pada mata-mata kuliah teknis yang sifatnya mikro.
Hal kedua yang perlu diwaspadai adalah Pemilu Presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2009. Hal yang merisaukan bukanlah konflik-konflik yang terjadi antar pendukung pada kandidat. Dalam hal dukung mendukung tampaknya masyarakat makin dewasa sehingga kemungkinan terjadinya konflik yang akan mengacaukan ekonomi dan dunia usaha sangat kecil. Yang justru perlu dikhawatirkan adalah kebijakan untuk mengobral uang untuk program-program populis yang sekarang sudah mulai terlihat. Jika tidak dikontrol secara ketat maka akan terjadi inflasi yang tinggi dan alokasi anggaran untuk sektor-sektor strategis misal pembangunan infrastruktur akan terabaikan.
(Nugroho SBM, Staf Pengajar FE Undip Semarang)
Blog ini berisi tulisan ilmiah populer dan komentar di berbagai media massa tentang masalah-masalah sosial ekonomi yang sedang dan akan terjadi di Indonesia
Kamis, 22 Januari 2009
dampak kepresidenan obama terhadap ekonomi indonesia
Oleh: Nugroho SBM
Akhirnya Barrack Obama dari Partai Demokrat dilantik sebagai Presiden AS yang baru, menggantikan George W Bush dari Partai Republik. Banyak pihak yang optimistis bahwa terpilihnya Obama akan membawa perbaikan bagi perekonomian dunia, AS, dan Indonesia sekaligus.
Optimisme itu dilandasi pada paket program ekonominya yang berbeda dengan rivalnya John Mac Cain dari Partai Republik. Dan khusus untuk Indonesia, optimisme bahwa Obama dalam kebijakan hubungan luar negerinya dalam berbagai aspek (terutama ekonomi) akan lebih menguntungkan Indonesia dilandasi oleh fakta historis bahwa dia masih mempunyai darah Indonesia dan pernah tinggal di Indonesia.
Tentang paket program ekonominya, Obama sesuai dengan ciri kebijakan ekonomi Partai Demokrat, lebih pro kepada campurtangan pemerintah yang lebih besar. Campurtangan pemerintah yang lebih besar tersebut dimaksudkan agar aspek keadilan dan kesejahteraan masyarakat banyak dapat tercapai. Hal ini berbeda dengan garis kebijakan ekonomi Partai Republik yang lebih pro pasar dan pengusaha-pengusaha besar.
Kebijakan Ekonomi Partai Republik- yang terakhir dikomandani oleh Presiden Bush - yang pro kepada mekanisme pasar dan pengusaha besar ternyata terbukti telah menjerumuskan ekonomi AS ke dalam krisis keuangan yang parah. Krisis keuangan AS tersebut akhirnya menyeret beberapa negara ke dalamnya. Kebijakan ekonomi yang sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar ternyata tidak mampu menahan siklus ekonomi.
Demikian pula kebijakan yang pro kepada para pengusaha besar ternyata juga menjerumuskan AS ke dalam krisis keuangan. Para pengusaha besar ternyata memainkan uangnya lewat transaksi-transaksi keuangan derivatif yang tak ada kaitannya dengan sektor riil yang kemudian membentuk ekonomi gelembung (buble economic) dan pada akhirnya gelembung itu pecah. Maka lahirlah krisis keuangan AS.
Dalam kampanyenya Obama mengatakan akan menjalankan program “redistribusi kekayaan”. Caranya antara lain dengan mengenakan pajak penghasilan (payroll tax) 6,2 persen kepada mereka yang berpenghasilan di atas 250.000 dolar AS per tahunnya. Hasilnya akan diberikan sebagai subsidi bagi golongan ekonomi lemah. Program ini telah banyak dikomentari sebagai mirip-mirip dengan ide Karl Marx tentang program redistribusi kekayaan yang terkenal dengan semboyan “ Dari seseorang sesuai kemampuannya kepada orang lain sesuai kebutuhannya”.
Program-program ekonomi Obama yang pro pada masyarakat luas khususnya mereka yang kecil, miskin, lemah dan tersingkir mungkin dalam waktu pendek akan melambatkan pertumbuhan ekonomi AS. Tetapi dalam jangka panjang jika distribusi pendapatan masyarakat AS lebih merata maka pertumbuhan ekonomi akan kembali naik dan lebih berkesinambungan daripada yang sekarang. Jika ini terjadi maka hal ini juga akan menguntungkan bagi negara-negara lain termasuk Indonesia yang tujuan ekspornya ke AS.
Dalam jangka pendek, terpilihnya Obama membawa sentimen positif di pasar modal dan pasar valuta asing seperti terlihat dari menguatnya Indeks Harga Saham di bursa-bursa saham di dunia pada umumnya dan di AS pada khususnya. Sentimen positif tersebut karena para pelaku pasar optimis terhadap paket program ekonomi Obama yang lain dengan kebijakan ekonomi Bush sehingga diharapkan mampu memperbaiki kondisi ekonomi AS dan dengan demikian juga ekonomi dunia.
Di samping itu, keyakinan bahwa paket program ekonomi Obama akan bisa mengangkat ekonomi AS juga disebabkan oleh adanya staf ahli yang digandeng oleh Obama dalam kampanyenya (dan kemungkinan besar akan menjadi staf tetapnya) yang merupakan staf ahli ekonomi Bill Clinton. Dan pada saat kepemimpinan Clinton, ekonomi AS menunjukkan kinerja yang cukup baik.
Optimisme Indonesia
Di samping disambut optimis akan memperbaiki kondisi ekonomi AS dan dunia, terpilihnya Obama sebagai presiden AS secara khusus disambut sangat optimistik oleh masyarakat Indonesia. Alasannya sebenarnya sangat sederhana yaitu Obama pernah tinggal di Indonesia dan ada keturunan Indonesia mengalir dalam darahnya. Tetapi benarkah dengan alasan itu, Obama dalam kebijakan luar negerinya khususnya di bidang ekonomi akan lebih memperhatikan Indonesia? Jawabannya tidak.
Kebijakan luar negeri –termasuk di dalamnya kebijakan dalam hubungan ekonomi dengan negara-negara lain- terutama untuk negara besar seperti AS tidaklah didasari oleh romantisme masa lalu tetapi oleh pertimbangan rasional. Pertimbangan rasional tersebut adalah apakah negara-negara yang akan dijadikan patner dagang ataupun diberi bantuan ekonomi mempunyai arti strategis atau tidak bagi AS. Bukti-bukti selama masa kampanye dan karir politik Obama menunjukkan bahwa Obama tidak memandang Indonesia sebagai negara yang strategis bagi AS.
Minimal ada dua bukti yang menunjukkan bahwa Obama tidak memandang strategis Indonesia. Pertama, baik di dalam debat maupun kampanye Obama tidak pernah menyinggung sedikitpun tentang perlunya menjalin hubungan lebih intensif dengan Indonesia. Dalam kampanyenya yang bisa dilihat di webnya (http://www.Obama.com), ia hanya menyatakan bahwa dalam kebijakan luar negerinya ia akan mencari kerjasama-kerjasama baru di Asia (Seek New Patnerships in Asia). Tetapi ia tidak secara spesifik menyebut Indonesia.
Bukti kedua, selama masih menjadi anggota senat Obama sebenarnya duduk di Komisi Hubungan International di Sub Komisi Asia Timur dan Pasifik. Selama duduk di sana, tak sekalipun Obama mengangkat isu-isu tentang Indonesia. Memang ada yang mengatakan bahwa isu tentang Indonesia kalah dengan isu tentang China, Korea Utara, Afganistan, India, dan Jepang. Tetapi ada beberapa senator lain seperti:Kit Bond, Patrick Leahy, Eni Faleomavaega, dan Robert Wexler yang rajin berbicara tentang Indonesia. Ada dua kemungkinan mengapa Obama tak pernah berbicara tentang Indonesia di konggres ataupun senat: pertama, ia sadar bahwa sejak ia diangkat menjadi anggota senat Januari 2005 ia tidak mau diasosiasikan dengan Indonesia karena hal itu bukan sesuatu yang menguntungkan sebagai bekal calon presiden. Kedua, memang ia tak berpikir bahwa Indonesia adalah negara yang strategis bagi AS. Tetapi dua kemungkinan tersebut tetap mempunyai kesimpulan yang sama yaitu Indonesia bukan negara yang penting bagi AS.
Ketidakstrategisan Indonesia dipandang dari sisi kepentingan AS versi Obama tersebut masih ditambah lagi dengan kenyataan bahwa di AS Hak Budget (Hak menyetujui anggaran atau APBN) dari Konggres bisa membatalkan berbagai kebijakan presiden termasuk kebijakan luar negeri. Memang sampai saat ini mayoritas anggota Konggres berasan dari Partai Demokrat (Partai Asal Obama). Tetapi banyak pengamat menyatakan bahwa meskipun berasal dari Partai Demokrat, tetapi Obama dikenal sebagai sosok yang sangat liberal. Hal itu dapat dilihat misalnya tentang persetujuannya terhadap perkawinan sesama jenis dan aborsi (pengguguran kandungan). Banyak anggota Partai Demokrat yang lebih konservatif yang mungkin tidak senang terhadap pandangan Obama tersebut dan bisa mempengaruhi pandangan politik mereka terhadap Obama.
Kemungkinan yang lebih buruk barangkali bisa terjadi yaitu terpilihnya Obama justru menjadi batu sandungan atau berdampak negatif terhadap ekonomi Indonesia. Sebagaimana diketahui sebagai calon dari Partai Demokrat – dan juga berkali-kali diucapkannya pada masa kampanye- Obama sangat memperhatikan isu-isu Hak Asasi Manusia, Hak-Hak Kaum Buruh, Peran Militer, Kelestarian Lingkungan Hidup, dan lain-lain. Ia berjanji akan meninjau kembali berbagai pernajian perdagangan bebas antara AS dengan negara-negara lain baik multilateral maupun bilateral jika negara yang terikat perjanjian itu tidak memperhatikan HAM, Hak-hak buruh, kelestarian lingkungan hidup, dan lain-lain. Jika benar demikian celakalah Indonesia sebagai patner dagang dan ekonomi AS karena justru terkait dengan isu-isu tersebut hubungan Indonesia- AS sering mengalami masalah.
(Nugroho SBM, SE, MSP, Staf Pengajar Jurusan IESP FE Undip Semarang)
Akhirnya Barrack Obama dari Partai Demokrat dilantik sebagai Presiden AS yang baru, menggantikan George W Bush dari Partai Republik. Banyak pihak yang optimistis bahwa terpilihnya Obama akan membawa perbaikan bagi perekonomian dunia, AS, dan Indonesia sekaligus.
Optimisme itu dilandasi pada paket program ekonominya yang berbeda dengan rivalnya John Mac Cain dari Partai Republik. Dan khusus untuk Indonesia, optimisme bahwa Obama dalam kebijakan hubungan luar negerinya dalam berbagai aspek (terutama ekonomi) akan lebih menguntungkan Indonesia dilandasi oleh fakta historis bahwa dia masih mempunyai darah Indonesia dan pernah tinggal di Indonesia.
Tentang paket program ekonominya, Obama sesuai dengan ciri kebijakan ekonomi Partai Demokrat, lebih pro kepada campurtangan pemerintah yang lebih besar. Campurtangan pemerintah yang lebih besar tersebut dimaksudkan agar aspek keadilan dan kesejahteraan masyarakat banyak dapat tercapai. Hal ini berbeda dengan garis kebijakan ekonomi Partai Republik yang lebih pro pasar dan pengusaha-pengusaha besar.
Kebijakan Ekonomi Partai Republik- yang terakhir dikomandani oleh Presiden Bush - yang pro kepada mekanisme pasar dan pengusaha besar ternyata terbukti telah menjerumuskan ekonomi AS ke dalam krisis keuangan yang parah. Krisis keuangan AS tersebut akhirnya menyeret beberapa negara ke dalamnya. Kebijakan ekonomi yang sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar ternyata tidak mampu menahan siklus ekonomi.
Demikian pula kebijakan yang pro kepada para pengusaha besar ternyata juga menjerumuskan AS ke dalam krisis keuangan. Para pengusaha besar ternyata memainkan uangnya lewat transaksi-transaksi keuangan derivatif yang tak ada kaitannya dengan sektor riil yang kemudian membentuk ekonomi gelembung (buble economic) dan pada akhirnya gelembung itu pecah. Maka lahirlah krisis keuangan AS.
Dalam kampanyenya Obama mengatakan akan menjalankan program “redistribusi kekayaan”. Caranya antara lain dengan mengenakan pajak penghasilan (payroll tax) 6,2 persen kepada mereka yang berpenghasilan di atas 250.000 dolar AS per tahunnya. Hasilnya akan diberikan sebagai subsidi bagi golongan ekonomi lemah. Program ini telah banyak dikomentari sebagai mirip-mirip dengan ide Karl Marx tentang program redistribusi kekayaan yang terkenal dengan semboyan “ Dari seseorang sesuai kemampuannya kepada orang lain sesuai kebutuhannya”.
Program-program ekonomi Obama yang pro pada masyarakat luas khususnya mereka yang kecil, miskin, lemah dan tersingkir mungkin dalam waktu pendek akan melambatkan pertumbuhan ekonomi AS. Tetapi dalam jangka panjang jika distribusi pendapatan masyarakat AS lebih merata maka pertumbuhan ekonomi akan kembali naik dan lebih berkesinambungan daripada yang sekarang. Jika ini terjadi maka hal ini juga akan menguntungkan bagi negara-negara lain termasuk Indonesia yang tujuan ekspornya ke AS.
Dalam jangka pendek, terpilihnya Obama membawa sentimen positif di pasar modal dan pasar valuta asing seperti terlihat dari menguatnya Indeks Harga Saham di bursa-bursa saham di dunia pada umumnya dan di AS pada khususnya. Sentimen positif tersebut karena para pelaku pasar optimis terhadap paket program ekonomi Obama yang lain dengan kebijakan ekonomi Bush sehingga diharapkan mampu memperbaiki kondisi ekonomi AS dan dengan demikian juga ekonomi dunia.
Di samping itu, keyakinan bahwa paket program ekonomi Obama akan bisa mengangkat ekonomi AS juga disebabkan oleh adanya staf ahli yang digandeng oleh Obama dalam kampanyenya (dan kemungkinan besar akan menjadi staf tetapnya) yang merupakan staf ahli ekonomi Bill Clinton. Dan pada saat kepemimpinan Clinton, ekonomi AS menunjukkan kinerja yang cukup baik.
Optimisme Indonesia
Di samping disambut optimis akan memperbaiki kondisi ekonomi AS dan dunia, terpilihnya Obama sebagai presiden AS secara khusus disambut sangat optimistik oleh masyarakat Indonesia. Alasannya sebenarnya sangat sederhana yaitu Obama pernah tinggal di Indonesia dan ada keturunan Indonesia mengalir dalam darahnya. Tetapi benarkah dengan alasan itu, Obama dalam kebijakan luar negerinya khususnya di bidang ekonomi akan lebih memperhatikan Indonesia? Jawabannya tidak.
Kebijakan luar negeri –termasuk di dalamnya kebijakan dalam hubungan ekonomi dengan negara-negara lain- terutama untuk negara besar seperti AS tidaklah didasari oleh romantisme masa lalu tetapi oleh pertimbangan rasional. Pertimbangan rasional tersebut adalah apakah negara-negara yang akan dijadikan patner dagang ataupun diberi bantuan ekonomi mempunyai arti strategis atau tidak bagi AS. Bukti-bukti selama masa kampanye dan karir politik Obama menunjukkan bahwa Obama tidak memandang Indonesia sebagai negara yang strategis bagi AS.
Minimal ada dua bukti yang menunjukkan bahwa Obama tidak memandang strategis Indonesia. Pertama, baik di dalam debat maupun kampanye Obama tidak pernah menyinggung sedikitpun tentang perlunya menjalin hubungan lebih intensif dengan Indonesia. Dalam kampanyenya yang bisa dilihat di webnya (http://www.Obama.com), ia hanya menyatakan bahwa dalam kebijakan luar negerinya ia akan mencari kerjasama-kerjasama baru di Asia (Seek New Patnerships in Asia). Tetapi ia tidak secara spesifik menyebut Indonesia.
Bukti kedua, selama masih menjadi anggota senat Obama sebenarnya duduk di Komisi Hubungan International di Sub Komisi Asia Timur dan Pasifik. Selama duduk di sana, tak sekalipun Obama mengangkat isu-isu tentang Indonesia. Memang ada yang mengatakan bahwa isu tentang Indonesia kalah dengan isu tentang China, Korea Utara, Afganistan, India, dan Jepang. Tetapi ada beberapa senator lain seperti:Kit Bond, Patrick Leahy, Eni Faleomavaega, dan Robert Wexler yang rajin berbicara tentang Indonesia. Ada dua kemungkinan mengapa Obama tak pernah berbicara tentang Indonesia di konggres ataupun senat: pertama, ia sadar bahwa sejak ia diangkat menjadi anggota senat Januari 2005 ia tidak mau diasosiasikan dengan Indonesia karena hal itu bukan sesuatu yang menguntungkan sebagai bekal calon presiden. Kedua, memang ia tak berpikir bahwa Indonesia adalah negara yang strategis bagi AS. Tetapi dua kemungkinan tersebut tetap mempunyai kesimpulan yang sama yaitu Indonesia bukan negara yang penting bagi AS.
Ketidakstrategisan Indonesia dipandang dari sisi kepentingan AS versi Obama tersebut masih ditambah lagi dengan kenyataan bahwa di AS Hak Budget (Hak menyetujui anggaran atau APBN) dari Konggres bisa membatalkan berbagai kebijakan presiden termasuk kebijakan luar negeri. Memang sampai saat ini mayoritas anggota Konggres berasan dari Partai Demokrat (Partai Asal Obama). Tetapi banyak pengamat menyatakan bahwa meskipun berasal dari Partai Demokrat, tetapi Obama dikenal sebagai sosok yang sangat liberal. Hal itu dapat dilihat misalnya tentang persetujuannya terhadap perkawinan sesama jenis dan aborsi (pengguguran kandungan). Banyak anggota Partai Demokrat yang lebih konservatif yang mungkin tidak senang terhadap pandangan Obama tersebut dan bisa mempengaruhi pandangan politik mereka terhadap Obama.
Kemungkinan yang lebih buruk barangkali bisa terjadi yaitu terpilihnya Obama justru menjadi batu sandungan atau berdampak negatif terhadap ekonomi Indonesia. Sebagaimana diketahui sebagai calon dari Partai Demokrat – dan juga berkali-kali diucapkannya pada masa kampanye- Obama sangat memperhatikan isu-isu Hak Asasi Manusia, Hak-Hak Kaum Buruh, Peran Militer, Kelestarian Lingkungan Hidup, dan lain-lain. Ia berjanji akan meninjau kembali berbagai pernajian perdagangan bebas antara AS dengan negara-negara lain baik multilateral maupun bilateral jika negara yang terikat perjanjian itu tidak memperhatikan HAM, Hak-hak buruh, kelestarian lingkungan hidup, dan lain-lain. Jika benar demikian celakalah Indonesia sebagai patner dagang dan ekonomi AS karena justru terkait dengan isu-isu tersebut hubungan Indonesia- AS sering mengalami masalah.
(Nugroho SBM, SE, MSP, Staf Pengajar Jurusan IESP FE Undip Semarang)
Minggu, 23 November 2008
Seharusnya Pemerintah Turunkan Harga Solar
Seharusnya Pemerintah Turunkan Harga Solar
SEMARANG--MI: Pemerintah seharusnya menurunkan harga solar, bukan premium yang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap biaya distribusi barang kebutuhan, kata pengamat ekonomi Nugroho SBM.
"Kalau harga premium yang diturunkan, itu tidak akan mampu mendorong penurunan harga barang lainnya, apalagi kalau penurunannya hanya Rp500 per liter," katanya di Semarang, Sabtu (7/11).
Ia mengatakan, kalau pilihannya hanya satu antara premium atau solar yang harganya diturunkan, seharusnya pemerintah memilih solar yang lebih banyak dikonsumsi kendaraan umum dan angkutan barang.
Staf pengajar Fakultas Ekonomi Undip Semarang itu mengemukakan, sebagian besar angkutan barang dan angkutan umum menggunakan bahan bakar solar sehingga kebijakan menurunkan harga premium tidak akan menyentuh sasaran merangsang penurunan harga barang lainnya.
Ia mengatakan tidak tahu pertimbangan ekonomi pemerintah untuk menurunkan harga premium, sebab bahan bakar ini lebih banyak dikonsumsi kendaraan pribadi sehingga secara makro bakal menyedot subsidi bahan bakar minyak (BBM) sangat besar tanpa memiliki efek berantai (mutiplier effects) yang berarti.
"Saya malah melihat kebijakan ini lebih banyak didasari pertimbangan politik untuk kepentingan Pemilu 2009. Ini (penurunan harga premium) tidak lebih dari kosmestik politik menjelang Pemilu 2009," katanya.
Menurutnya, harga minyak dunia yang terpangkas hingga di bawah US$60 per barrel seharusnya tidak hanya menurunkan harga salah satu jenis BBM. "Seharusnya secara bersamaan harga solar juga bisa di bawah Rp5.500 per liter," ujarnya.
Ia menambahkan, penurunan Rp500 per liter untuk premium tidak akan memiliki pengaruh berarti terhadap harga barang lainnya. "Kalau pun ada terhadap penurunan harga barang lainnya, itu sangat kecil," kata Nugroho.
Rencana pemerintah menurunkan harga premium per 1 Desember 2008 menjadi Rp5.500 dari Rp6.000 per liter, disambut dingin warga Kota Semarang.
Suparman, 58, warga Tembalang Semarang semula mengira harga premium bakal menjadi Rp4.500 atau Rp5.000, namun ternyata hanya turun Rp500 per liter. Alwi, juga warga Tembalang juga menyatakan tidak yakin harga barang kebutuhan akan ikut-ikutan turun setelah pemerintah memotong harga premium menjadi Rp5.500 per liter.
"Sangat jarang ada produsen mau menurunkan harga, sebab kalau harga diturunkan, mau naik lagi lebih sulit. Padahal tidak ada yang bisa menjamin harga BBM tidak akan naik lagi," kata pengusaha itu. (Ant/OL-01)
tersedia di http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDI0MDQ=
SEMARANG--MI: Pemerintah seharusnya menurunkan harga solar, bukan premium yang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap biaya distribusi barang kebutuhan, kata pengamat ekonomi Nugroho SBM.
"Kalau harga premium yang diturunkan, itu tidak akan mampu mendorong penurunan harga barang lainnya, apalagi kalau penurunannya hanya Rp500 per liter," katanya di Semarang, Sabtu (7/11).
Ia mengatakan, kalau pilihannya hanya satu antara premium atau solar yang harganya diturunkan, seharusnya pemerintah memilih solar yang lebih banyak dikonsumsi kendaraan umum dan angkutan barang.
Staf pengajar Fakultas Ekonomi Undip Semarang itu mengemukakan, sebagian besar angkutan barang dan angkutan umum menggunakan bahan bakar solar sehingga kebijakan menurunkan harga premium tidak akan menyentuh sasaran merangsang penurunan harga barang lainnya.
Ia mengatakan tidak tahu pertimbangan ekonomi pemerintah untuk menurunkan harga premium, sebab bahan bakar ini lebih banyak dikonsumsi kendaraan pribadi sehingga secara makro bakal menyedot subsidi bahan bakar minyak (BBM) sangat besar tanpa memiliki efek berantai (mutiplier effects) yang berarti.
"Saya malah melihat kebijakan ini lebih banyak didasari pertimbangan politik untuk kepentingan Pemilu 2009. Ini (penurunan harga premium) tidak lebih dari kosmestik politik menjelang Pemilu 2009," katanya.
Menurutnya, harga minyak dunia yang terpangkas hingga di bawah US$60 per barrel seharusnya tidak hanya menurunkan harga salah satu jenis BBM. "Seharusnya secara bersamaan harga solar juga bisa di bawah Rp5.500 per liter," ujarnya.
Ia menambahkan, penurunan Rp500 per liter untuk premium tidak akan memiliki pengaruh berarti terhadap harga barang lainnya. "Kalau pun ada terhadap penurunan harga barang lainnya, itu sangat kecil," kata Nugroho.
Rencana pemerintah menurunkan harga premium per 1 Desember 2008 menjadi Rp5.500 dari Rp6.000 per liter, disambut dingin warga Kota Semarang.
Suparman, 58, warga Tembalang Semarang semula mengira harga premium bakal menjadi Rp4.500 atau Rp5.000, namun ternyata hanya turun Rp500 per liter. Alwi, juga warga Tembalang juga menyatakan tidak yakin harga barang kebutuhan akan ikut-ikutan turun setelah pemerintah memotong harga premium menjadi Rp5.500 per liter.
"Sangat jarang ada produsen mau menurunkan harga, sebab kalau harga diturunkan, mau naik lagi lebih sulit. Padahal tidak ada yang bisa menjamin harga BBM tidak akan naik lagi," kata pengusaha itu. (Ant/OL-01)
tersedia di http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDI0MDQ=
Pemerintah Bakal Direpotkan Ulah Spekulan Minyak Internasional
Kapanlagi.com - Ulah spekulan yang menguasai perdagangan minyak internasional dikhawatirkan merepotkan pemerintah dan DPR pada tahun depan karena harus merevisi berulang kali asumsi harga minyak dalam RAPBN 2009, kata ekonom Undip Semarang, Nugroho SBM, Jumat (15/08/08).
"Tahun ini, 2008, memberi pelajaran penting bagi pemerintah dan DPR, betapa fluktuasi harga minyak bukan diakibatkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia," katanya menanggapi RAPBN 2009.
Pemerintah mengusulkan besaran asumsi harga minyak mentah dalam RAPBN 2009 senilai 140 dollar AS/barrel, seperti disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu di Jakarta, Kamis.
APBN Perubahan 2008 menetapkan asumsi harga minyak 95 dollar AS, sedangkan realisasi selama semester I 2008 senilai 109,4 dollar. Perkiraan selama semester II sebesar 145,0 dollar AS dan realisasi selama 2008 diperkirakan mencapai 127,2 dollar AS.
Nugroho mengemukakan, ketika APBN 2008 disusun, tidak ada yang memprediksi harga minyak mentah dunia bakal meroket hingga 150 dollar AS/barrel karena tidak ada faktor fundamental yang mendorong kenaikan harga secara luar biasa.
Ketegangan politik di sejumlah kawasan, termasuk Timur Tengah memang terjadi, namun menurut dia, hal itu merupakan masalah klasik dan bukan menyebabkan terganggunya distribusi dan eksplorasi minyak.
"Kenaikan beberapa waktu lalu murni akibat ulah spekulan dengan menciptakan informasi yang mendorong orang untuk memaklumi kenaikan harga minyak," katanya. Kala itu diembuskan isu bahwa harga minyak akhir tahun 2008 bisa menembus 200 dollar AS/barrel.
Menurut kandidat doktor itu, negara pengekspor minyak (OPEC) mengatakan produksi mereka mencukupi kebutuhan pasar dan selama itu juga tidak terjadi lonjakan permintaan.
"Saya kira pengusaha minyak dari AS dan Arab menjadi bagian dari skenario mendongkrak kenaikan harga minyak dunia, dan mereka meraih keuntungan besar," katanya.
Karena fluktuasi harga minyak tidak lagi hanya ditentukan oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, katanya, maka sulit bagi pemerintah untuk menetapkan besar asumsi harga minyak pada RAPBN 2009.
Akan tetapi, katanya lagi, penetapan asumsi harus tetap dilakukan karena menjadi bagian dari penerimaan dan besaran subsidi harga BBM yang bakal digelontorkan kepada rakyat.
Ia menilai, asumsi harga minyak 140 dollar AS/barrel pada RAPBN 2009 merupakan angka yang moderat meskipun kecenderungan belakangan ini harga minyak melemah. Oleh karena itu, katanya, APBN 2009 nanti juga bisa mengalami beberapa kali perubahan.
Nugroho menyarankan pemerintah agar terus memperbesar penerimaan dari sektor pajak dan nonpajak, sebab potensi pajak selama ini belum tergarap optimal, apalagi produksi minyak juga tidak lagi mencukupi memenuhi kebutuhan domestik sehingga harus impor. Akibatnya, pemerintah memberi subsidi harga BBM sangat besar.
Pemerintah, katanya, juga harus lebih serius mengawasi jumlah produksi minyak (lifting) karena bisa jadi antara yang dihasilkan dengan yang dilaporkan berbeda sehingga merugikan negara. (*/lin)
DAPAT DIAKSES DI http://www.kapanlagi.com/h/0000245054.html
"Tahun ini, 2008, memberi pelajaran penting bagi pemerintah dan DPR, betapa fluktuasi harga minyak bukan diakibatkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia," katanya menanggapi RAPBN 2009.
Pemerintah mengusulkan besaran asumsi harga minyak mentah dalam RAPBN 2009 senilai 140 dollar AS/barrel, seperti disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu di Jakarta, Kamis.
APBN Perubahan 2008 menetapkan asumsi harga minyak 95 dollar AS, sedangkan realisasi selama semester I 2008 senilai 109,4 dollar. Perkiraan selama semester II sebesar 145,0 dollar AS dan realisasi selama 2008 diperkirakan mencapai 127,2 dollar AS.
Nugroho mengemukakan, ketika APBN 2008 disusun, tidak ada yang memprediksi harga minyak mentah dunia bakal meroket hingga 150 dollar AS/barrel karena tidak ada faktor fundamental yang mendorong kenaikan harga secara luar biasa.
Ketegangan politik di sejumlah kawasan, termasuk Timur Tengah memang terjadi, namun menurut dia, hal itu merupakan masalah klasik dan bukan menyebabkan terganggunya distribusi dan eksplorasi minyak.
"Kenaikan beberapa waktu lalu murni akibat ulah spekulan dengan menciptakan informasi yang mendorong orang untuk memaklumi kenaikan harga minyak," katanya. Kala itu diembuskan isu bahwa harga minyak akhir tahun 2008 bisa menembus 200 dollar AS/barrel.
Menurut kandidat doktor itu, negara pengekspor minyak (OPEC) mengatakan produksi mereka mencukupi kebutuhan pasar dan selama itu juga tidak terjadi lonjakan permintaan.
"Saya kira pengusaha minyak dari AS dan Arab menjadi bagian dari skenario mendongkrak kenaikan harga minyak dunia, dan mereka meraih keuntungan besar," katanya.
Karena fluktuasi harga minyak tidak lagi hanya ditentukan oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, katanya, maka sulit bagi pemerintah untuk menetapkan besar asumsi harga minyak pada RAPBN 2009.
Akan tetapi, katanya lagi, penetapan asumsi harus tetap dilakukan karena menjadi bagian dari penerimaan dan besaran subsidi harga BBM yang bakal digelontorkan kepada rakyat.
Ia menilai, asumsi harga minyak 140 dollar AS/barrel pada RAPBN 2009 merupakan angka yang moderat meskipun kecenderungan belakangan ini harga minyak melemah. Oleh karena itu, katanya, APBN 2009 nanti juga bisa mengalami beberapa kali perubahan.
Nugroho menyarankan pemerintah agar terus memperbesar penerimaan dari sektor pajak dan nonpajak, sebab potensi pajak selama ini belum tergarap optimal, apalagi produksi minyak juga tidak lagi mencukupi memenuhi kebutuhan domestik sehingga harus impor. Akibatnya, pemerintah memberi subsidi harga BBM sangat besar.
Pemerintah, katanya, juga harus lebih serius mengawasi jumlah produksi minyak (lifting) karena bisa jadi antara yang dihasilkan dengan yang dilaporkan berbeda sehingga merugikan negara. (*/lin)
DAPAT DIAKSES DI http://www.kapanlagi.com/h/0000245054.html
LAGI-LAGI RENOVASI DAN RELOKASI PASAR
LAGI-LAGI RENOVASI DAN RELOKASI PASAR
Oleh: Nugroho SBM
Lagi-lagi masalah relokasi dan renovasi pasar. Begitulah kira-kira reaksi masyarakat jika membaca tentang ribut-ribut masalah rencana relokasi pasar ayam Rejomulyo Semarang. Ribut-ribut tersebut berupa penolakan sebagian besar pedagang di pasar ayam Rejomulyo untuk pindah. Ribut-ribut itu mencapai puncaknya ketika sosialisasi yang dilakukan oleh Pemkot Semarang yang dipimpin oleh Sekretaris Kota Semarang Soemarmo ricuh. Sosialisasi ricuh dan gagal setelah para pedagang meninggalkan pertemuan dan justru memilih berdemonstrasi di depan gedung rapat paripurna DPRD Kota Semarang.
Sebagaimana diketahui alasan utama Pemkot memindah Pasar Ayam Rejomulyo adalah pencemaran lingkungan akibat limbah pemotongan ayam di pasar tersebut. Di samping itu bahaya penyakit misalnya flu burung yang sewaktu-waktu bisa menyebar. Dari alasan yang dikemukakan ini, sebenarnya alasan Pemkot Semarang sangat rasional dan demi kepentingan umum yang lebih besar yaitu penduduk yang sangat padat yang bermukim di sekitar pasar Rejomulyo.
Kembali kepada masalah relokasi Pasar Ayam Rejomulyo, jika kita mau belajar dari kasus-kasus yang terjadi dalam renovasi maupun relokasi pasar tradisional maka ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran agar relokasi Pasar ayam Rejomulyo berjalan sukses. Pertama, kunci sukses dalam relokasi dan renovasi pasar tradisional adalah bagaimana mensosialisasikan hal tersebut kepada para pedagang yang ada di dalam pasar tersebut. Seperti terungkap di media massa, keberatan para pedagang ayam di Pasar Rejomulyo adalah karena jarak antara sosialisasi (pemberitahuan) yang dilakukan Pemkot Semarang dengan rencana relokasi begitu dekat dan mendadak. Para pedagang mengaku tidak tahu menahu rencana relokasi tersebut jauh hari sebelumnya. Maka jika ingin relokasi sukses, Pemkot harus sabar untuk melakukan sosialisasi dalam jangka panjang dengan melakukan pendekatan terhadap beberapa tokoh yang menjadi panutan pedagang misalnya ketua paguyuban pedagang ayam dan para sesepuh.
Faktor Lokasi
Rahasia sukses kedua, adanya jaminan dari Pemkot bahwa para pedagang dapat menempati lokasi yang baru dan lokasi baru tersebut menjamin akses yang mudah bagi pembeli. Selama ini baik renovasi maupun relokasi pasar tradisional gagal karena pasar hasil renovasi atau relokasi biaya sewa atau harga beli kios atau lapaknya mahal. Akibatnya pedagang lama tidak bisa masuk ke pasar hasil relokasi dan renovasi tersebut. Maka salah satu daya tarik agar para pedagang mau pindah dan menempati pasar yang baru Pemkot harus menjelaskan bahwa biaya menempati los atau lapak di pasar yang baru adalah murah. Dapat diaksesnya lokasi pasar hasil relokasi juga merupakan faktor yang penting. Ditinjau dari aspek ini, lokasi pasar yang baru sebagai pengganti Pasar Rejomulyo yaitu di Rumah Pemotongan Unggas (RPU) Penggaron, tidak memenuhi syarat. Lokasi pasar yang baru di penggaron sangat jauh sehingga bisa dimaklumi kalau para pedagang menolak
Jalan ke luar dari masalah lokasi ini adalah Pemkot hendaknya mencari lokasi yang dapat dijangkau oleh para pembeli dengan mudah. Mungkin bisa ditempuh tukar guling antara lahan milik Pemkot dengan lahan milik perorangan yang lokasinya mudah dijangkau oleh pembeli. Kesulitannya mungkin Pemkot tidak punya lahan untuk ditukar dan bila ada mungkin nilainya lebih rendah dari lahan milik perorangan yang lokasinya lebih strategis sehingga harus ada dana talangan dari APBD. Untuk mendapatkan alokasi dana dari APBD bukanlah barang mudah karena harus ada persetujuan dari DPRD. Oleh karena itu, dalam jangka panjang Pemkot Semarang harus punya Bank Lahan. Yang dimaksud adalah Pemkot harus punya simpanan lahan yang diperoleh dengan cara membeli lahan-lahan milik perorangan. Bank lahan ini akan sangat berguna bila sewaktu-waktu Pemkot membutuhkan lahan untuk membangun sarana dan prasarana publik.
Masalah lain yang sering terjadi dalam khususnya relokasi pasar adalah adanya “misteri lokasi pasar”. Maksudnya seringkali lokasi pasar yang baru tidak jauh dari pasar yang lama tetapi pasar yang baru tersebut menjadi sepi. Penjelasan rasional dari hal ini mungkin adalah masalah kebiasaan para konsumen untuk menyesuaikan dengan lokasi yang baru.
Akhirnya, masalah relokasi dan renovasi pasar memang harus dilakukan dengan hati-hati. Jika tidak, akibatnya bisa fatal. Seorang perencana kota pernah mengatakan bahwa pasar mirip dengan kubangan air yang di dalamnya hidup berbagai jasad renik. Memindahkan kubangan atau mengeringkan kubangan tersebut akan mematikan jasad-jasad renik tersebut. Analoginya, pasar merupakan tempat banyak orang mencari nafkah. Demikian pula di Pasar Ayam Rejomulyo. Ada pedagang ayam, ada kuli angkut, ada tukang becak, ada mobil-mobil pengankut, tukang parkir, warung-warung makan, dan pemotong ayam. Jika tidak hati-hati memindahkan Pasar Rejomulyo maka nafkah dari sekian banyak orang itu akan hilang. Dan jika terjadi demikian maka itu adalah kesalahan kebijakan yang tak terampunkan.
(Nugroho SBM, Staf Pengajar FE Undip Semarang)
Oleh: Nugroho SBM
Lagi-lagi masalah relokasi dan renovasi pasar. Begitulah kira-kira reaksi masyarakat jika membaca tentang ribut-ribut masalah rencana relokasi pasar ayam Rejomulyo Semarang. Ribut-ribut tersebut berupa penolakan sebagian besar pedagang di pasar ayam Rejomulyo untuk pindah. Ribut-ribut itu mencapai puncaknya ketika sosialisasi yang dilakukan oleh Pemkot Semarang yang dipimpin oleh Sekretaris Kota Semarang Soemarmo ricuh. Sosialisasi ricuh dan gagal setelah para pedagang meninggalkan pertemuan dan justru memilih berdemonstrasi di depan gedung rapat paripurna DPRD Kota Semarang.
Sebagaimana diketahui alasan utama Pemkot memindah Pasar Ayam Rejomulyo adalah pencemaran lingkungan akibat limbah pemotongan ayam di pasar tersebut. Di samping itu bahaya penyakit misalnya flu burung yang sewaktu-waktu bisa menyebar. Dari alasan yang dikemukakan ini, sebenarnya alasan Pemkot Semarang sangat rasional dan demi kepentingan umum yang lebih besar yaitu penduduk yang sangat padat yang bermukim di sekitar pasar Rejomulyo.
Kembali kepada masalah relokasi Pasar Ayam Rejomulyo, jika kita mau belajar dari kasus-kasus yang terjadi dalam renovasi maupun relokasi pasar tradisional maka ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran agar relokasi Pasar ayam Rejomulyo berjalan sukses. Pertama, kunci sukses dalam relokasi dan renovasi pasar tradisional adalah bagaimana mensosialisasikan hal tersebut kepada para pedagang yang ada di dalam pasar tersebut. Seperti terungkap di media massa, keberatan para pedagang ayam di Pasar Rejomulyo adalah karena jarak antara sosialisasi (pemberitahuan) yang dilakukan Pemkot Semarang dengan rencana relokasi begitu dekat dan mendadak. Para pedagang mengaku tidak tahu menahu rencana relokasi tersebut jauh hari sebelumnya. Maka jika ingin relokasi sukses, Pemkot harus sabar untuk melakukan sosialisasi dalam jangka panjang dengan melakukan pendekatan terhadap beberapa tokoh yang menjadi panutan pedagang misalnya ketua paguyuban pedagang ayam dan para sesepuh.
Faktor Lokasi
Rahasia sukses kedua, adanya jaminan dari Pemkot bahwa para pedagang dapat menempati lokasi yang baru dan lokasi baru tersebut menjamin akses yang mudah bagi pembeli. Selama ini baik renovasi maupun relokasi pasar tradisional gagal karena pasar hasil renovasi atau relokasi biaya sewa atau harga beli kios atau lapaknya mahal. Akibatnya pedagang lama tidak bisa masuk ke pasar hasil relokasi dan renovasi tersebut. Maka salah satu daya tarik agar para pedagang mau pindah dan menempati pasar yang baru Pemkot harus menjelaskan bahwa biaya menempati los atau lapak di pasar yang baru adalah murah. Dapat diaksesnya lokasi pasar hasil relokasi juga merupakan faktor yang penting. Ditinjau dari aspek ini, lokasi pasar yang baru sebagai pengganti Pasar Rejomulyo yaitu di Rumah Pemotongan Unggas (RPU) Penggaron, tidak memenuhi syarat. Lokasi pasar yang baru di penggaron sangat jauh sehingga bisa dimaklumi kalau para pedagang menolak
Jalan ke luar dari masalah lokasi ini adalah Pemkot hendaknya mencari lokasi yang dapat dijangkau oleh para pembeli dengan mudah. Mungkin bisa ditempuh tukar guling antara lahan milik Pemkot dengan lahan milik perorangan yang lokasinya mudah dijangkau oleh pembeli. Kesulitannya mungkin Pemkot tidak punya lahan untuk ditukar dan bila ada mungkin nilainya lebih rendah dari lahan milik perorangan yang lokasinya lebih strategis sehingga harus ada dana talangan dari APBD. Untuk mendapatkan alokasi dana dari APBD bukanlah barang mudah karena harus ada persetujuan dari DPRD. Oleh karena itu, dalam jangka panjang Pemkot Semarang harus punya Bank Lahan. Yang dimaksud adalah Pemkot harus punya simpanan lahan yang diperoleh dengan cara membeli lahan-lahan milik perorangan. Bank lahan ini akan sangat berguna bila sewaktu-waktu Pemkot membutuhkan lahan untuk membangun sarana dan prasarana publik.
Masalah lain yang sering terjadi dalam khususnya relokasi pasar adalah adanya “misteri lokasi pasar”. Maksudnya seringkali lokasi pasar yang baru tidak jauh dari pasar yang lama tetapi pasar yang baru tersebut menjadi sepi. Penjelasan rasional dari hal ini mungkin adalah masalah kebiasaan para konsumen untuk menyesuaikan dengan lokasi yang baru.
Akhirnya, masalah relokasi dan renovasi pasar memang harus dilakukan dengan hati-hati. Jika tidak, akibatnya bisa fatal. Seorang perencana kota pernah mengatakan bahwa pasar mirip dengan kubangan air yang di dalamnya hidup berbagai jasad renik. Memindahkan kubangan atau mengeringkan kubangan tersebut akan mematikan jasad-jasad renik tersebut. Analoginya, pasar merupakan tempat banyak orang mencari nafkah. Demikian pula di Pasar Ayam Rejomulyo. Ada pedagang ayam, ada kuli angkut, ada tukang becak, ada mobil-mobil pengankut, tukang parkir, warung-warung makan, dan pemotong ayam. Jika tidak hati-hati memindahkan Pasar Rejomulyo maka nafkah dari sekian banyak orang itu akan hilang. Dan jika terjadi demikian maka itu adalah kesalahan kebijakan yang tak terampunkan.
(Nugroho SBM, Staf Pengajar FE Undip Semarang)
Minggu, 14 September 2008
Komentar di Media Massa
KUR Jateng Tembus Rp1,2 T
Thursday, 04 September 2008
SEMARANG(SINDO) – Realisasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) Jateng hingga Agustus mencapai lebih dari Rp1,279 triliun untuk 235.373 debitur UMKM.
Realisasi tersebut hanya meningkat 10% dibanding Juli 2008 yang mencapai Rp1,16 triliun. Data dari Dinas Koperasi dan UMKM Jateng mencatat PT Bank BRI menyalurkan KUR terbanyak yang mencapai Rp998,603 miliar atau hampir 78% dari total penyaluran KUR.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng Abdul Sulhadi mengatakan, pencapaian tersebut memang masih jauh dari keinginan sebab jumlah UMKM di Jateng saat ini mencapai Rp2,6 juta. Namun,Sulhadi mengakui tidak semua UMKM tersebut mampu dijangkau oleh para pelaku perbankan.
”Memang perbankan kan tidak dididik untuk menjadi kreditur bagi para UMKM gurem. Jadi,wajar kalau mungkin ada beberapa UMKM yang belum terlayani,” katanya kemarin. Sulhadi juga memaklumi sikap perbankan yang lebih berhati- hati dalam menyalurkan kredit. Para perbankan lebih nyaman untuk menawarkan kredit kepada para nasabah lamanya yang mempunyai track record yang baik.
”Mereka mungkin akan berpikir untuk menawarkan kredit itu kepada nasabah lama ketimbang mencari nasabah baru.Mereka mungkin juga tidak ingin menanggung risiko,”jelasnya. Melihat pertumbuhan penyaluran KUR yang tidak terlalu cepat, Sulhadi berencana akan menjalankan program akselerasi atau percepatan untuk membantu para UMKM yang bankable namun belum terfasilitasi.
”Kita berencana akan menggandeng bank daerah yang mempunyai kemampuan dan berkeinginan untuk ikut membantu permodalan UMKM.Tetapi secara teknis masih harus dipertimbangkan lagi,”paparnya. Selain menggandeng bank daerah, Sulhadi juga menyebut lembaga koperasi akan turut menyalurkan permodalan bagi UMKM. ”Mungkin ini bisa disebut dengan KUR lokal,”ungkapnya.
Pengamat ekonomi Undip Nugroho SBM memilih adanya lembaga penjamin kredit di tingkat daerah sebagai solusi untuk mempercepat penyaluran KUR kepada para UMKM. Menurutnya, dengan adanya lembaga tersebut, bank tidak lagi khawatir ada kredit macet.
”Baiknya badan penjamin kredit yang dulu pernah diwacanakan di Jateng segera direalisasikan karena itu sangat membantu para UMKM mendapatkan kredit,”terangnya. (sari septiyaningtias)
Thursday, 04 September 2008
SEMARANG(SINDO) – Realisasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) Jateng hingga Agustus mencapai lebih dari Rp1,279 triliun untuk 235.373 debitur UMKM.
Realisasi tersebut hanya meningkat 10% dibanding Juli 2008 yang mencapai Rp1,16 triliun. Data dari Dinas Koperasi dan UMKM Jateng mencatat PT Bank BRI menyalurkan KUR terbanyak yang mencapai Rp998,603 miliar atau hampir 78% dari total penyaluran KUR.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng Abdul Sulhadi mengatakan, pencapaian tersebut memang masih jauh dari keinginan sebab jumlah UMKM di Jateng saat ini mencapai Rp2,6 juta. Namun,Sulhadi mengakui tidak semua UMKM tersebut mampu dijangkau oleh para pelaku perbankan.
”Memang perbankan kan tidak dididik untuk menjadi kreditur bagi para UMKM gurem. Jadi,wajar kalau mungkin ada beberapa UMKM yang belum terlayani,” katanya kemarin. Sulhadi juga memaklumi sikap perbankan yang lebih berhati- hati dalam menyalurkan kredit. Para perbankan lebih nyaman untuk menawarkan kredit kepada para nasabah lamanya yang mempunyai track record yang baik.
”Mereka mungkin akan berpikir untuk menawarkan kredit itu kepada nasabah lama ketimbang mencari nasabah baru.Mereka mungkin juga tidak ingin menanggung risiko,”jelasnya. Melihat pertumbuhan penyaluran KUR yang tidak terlalu cepat, Sulhadi berencana akan menjalankan program akselerasi atau percepatan untuk membantu para UMKM yang bankable namun belum terfasilitasi.
”Kita berencana akan menggandeng bank daerah yang mempunyai kemampuan dan berkeinginan untuk ikut membantu permodalan UMKM.Tetapi secara teknis masih harus dipertimbangkan lagi,”paparnya. Selain menggandeng bank daerah, Sulhadi juga menyebut lembaga koperasi akan turut menyalurkan permodalan bagi UMKM. ”Mungkin ini bisa disebut dengan KUR lokal,”ungkapnya.
Pengamat ekonomi Undip Nugroho SBM memilih adanya lembaga penjamin kredit di tingkat daerah sebagai solusi untuk mempercepat penyaluran KUR kepada para UMKM. Menurutnya, dengan adanya lembaga tersebut, bank tidak lagi khawatir ada kredit macet.
”Baiknya badan penjamin kredit yang dulu pernah diwacanakan di Jateng segera direalisasikan karena itu sangat membantu para UMKM mendapatkan kredit,”terangnya. (sari septiyaningtias)
Rabu, 03 September 2008
Pemerintah Bakal Diributkan Spekulan Minyak Internasional
Jum'at, 15 Agustus 2008 17:19
Kapanlagi.com - Ulah spekulan yang menguasai perdagangan minyak internasional dikhawatirkan merepotkan pemerintah dan DPR pada tahun depan karena harus merevisi berulang kali asumsi harga minyak dalam RAPBN 2009, kata ekonom Undip Semarang, Nugroho SBM, Jumat (15/08/08).
"Tahun ini, 2008, memberi pelajaran penting bagi pemerintah dan DPR, betapa fluktuasi harga minyak bukan diakibatkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia," katanya menanggapi RAPBN 2009.
Pemerintah mengusulkan besaran asumsi harga minyak mentah dalam RAPBN 2009 senilai 140 dollar AS/barrel, seperti disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu di Jakarta, Kamis.
APBN Perubahan 2008 menetapkan asumsi harga minyak 95 dollar AS, sedangkan realisasi selama semester I 2008 senilai 109,4 dollar. Perkiraan selama semester II sebesar 145,0 dollar AS dan realisasi selama 2008 diperkirakan mencapai 127,2 dollar AS.
Nugroho mengemukakan, ketika APBN 2008 disusun, tidak ada yang memprediksi harga minyak mentah dunia bakal meroket hingga 150 dollar AS/barrel karena tidak ada faktor fundamental yang mendorong kenaikan harga secara luar biasa.
Ketegangan politik di sejumlah kawasan, termasuk Timur Tengah memang terjadi, namun menurut dia, hal itu merupakan masalah klasik dan bukan menyebabkan terganggunya distribusi dan eksplorasi minyak.
"Kenaikan beberapa waktu lalu murni akibat ulah spekulan dengan menciptakan informasi yang mendorong orang untuk memaklumi kenaikan harga minyak," katanya. Kala itu diembuskan isu bahwa harga minyak akhir tahun 2008 bisa menembus 200 dollar AS/barrel.
Menurut kandidat doktor itu, negara pengekspor minyak (OPEC) mengatakan produksi mereka mencukupi kebutuhan pasar dan selama itu juga tidak terjadi lonjakan permintaan.
"Saya kira pengusaha minyak dari AS dan Arab menjadi bagian dari skenario mendongkrak kenaikan harga minyak dunia, dan mereka meraih keuntungan besar," katanya.
Karena fluktuasi harga minyak tidak lagi hanya ditentukan oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, katanya, maka sulit bagi pemerintah untuk menetapkan besar asumsi harga minyak pada RAPBN 2009.
Akan tetapi, katanya lagi, penetapan asumsi harus tetap dilakukan karena menjadi bagian dari penerimaan dan besaran subsidi harga BBM yang bakal digelontorkan kepada rakyat.
Ia menilai, asumsi harga minyak 140 dollar AS/barrel pada RAPBN 2009 merupakan angka yang moderat meskipun kecenderungan belakangan ini harga minyak melemah. Oleh karena itu, katanya, APBN 2009 nanti juga bisa mengalami beberapa kali perubahan.
Nugroho menyarankan pemerintah agar terus memperbesar penerimaan dari sektor pajak dan nonpajak, sebab potensi pajak selama ini belum tergarap optimal, apalagi produksi minyak juga tidak lagi mencukupi memenuhi kebutuhan domestik sehingga harus impor. Akibatnya, pemerintah memberi subsidi harga BBM sangat besar.
Pemerintah, katanya, juga harus lebih serius mengawasi jumlah produksi minyak (lifting) karena bisa jadi antara yang dihasilkan dengan yang dilaporkan berbeda sehingga merugikan negara. (*/lin)
Tersedia di http://www.kapanlagi.com/h/0000245054.html
Kapanlagi.com - Ulah spekulan yang menguasai perdagangan minyak internasional dikhawatirkan merepotkan pemerintah dan DPR pada tahun depan karena harus merevisi berulang kali asumsi harga minyak dalam RAPBN 2009, kata ekonom Undip Semarang, Nugroho SBM, Jumat (15/08/08).
"Tahun ini, 2008, memberi pelajaran penting bagi pemerintah dan DPR, betapa fluktuasi harga minyak bukan diakibatkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia," katanya menanggapi RAPBN 2009.
Pemerintah mengusulkan besaran asumsi harga minyak mentah dalam RAPBN 2009 senilai 140 dollar AS/barrel, seperti disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu di Jakarta, Kamis.
APBN Perubahan 2008 menetapkan asumsi harga minyak 95 dollar AS, sedangkan realisasi selama semester I 2008 senilai 109,4 dollar. Perkiraan selama semester II sebesar 145,0 dollar AS dan realisasi selama 2008 diperkirakan mencapai 127,2 dollar AS.
Nugroho mengemukakan, ketika APBN 2008 disusun, tidak ada yang memprediksi harga minyak mentah dunia bakal meroket hingga 150 dollar AS/barrel karena tidak ada faktor fundamental yang mendorong kenaikan harga secara luar biasa.
Ketegangan politik di sejumlah kawasan, termasuk Timur Tengah memang terjadi, namun menurut dia, hal itu merupakan masalah klasik dan bukan menyebabkan terganggunya distribusi dan eksplorasi minyak.
"Kenaikan beberapa waktu lalu murni akibat ulah spekulan dengan menciptakan informasi yang mendorong orang untuk memaklumi kenaikan harga minyak," katanya. Kala itu diembuskan isu bahwa harga minyak akhir tahun 2008 bisa menembus 200 dollar AS/barrel.
Menurut kandidat doktor itu, negara pengekspor minyak (OPEC) mengatakan produksi mereka mencukupi kebutuhan pasar dan selama itu juga tidak terjadi lonjakan permintaan.
"Saya kira pengusaha minyak dari AS dan Arab menjadi bagian dari skenario mendongkrak kenaikan harga minyak dunia, dan mereka meraih keuntungan besar," katanya.
Karena fluktuasi harga minyak tidak lagi hanya ditentukan oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, katanya, maka sulit bagi pemerintah untuk menetapkan besar asumsi harga minyak pada RAPBN 2009.
Akan tetapi, katanya lagi, penetapan asumsi harus tetap dilakukan karena menjadi bagian dari penerimaan dan besaran subsidi harga BBM yang bakal digelontorkan kepada rakyat.
Ia menilai, asumsi harga minyak 140 dollar AS/barrel pada RAPBN 2009 merupakan angka yang moderat meskipun kecenderungan belakangan ini harga minyak melemah. Oleh karena itu, katanya, APBN 2009 nanti juga bisa mengalami beberapa kali perubahan.
Nugroho menyarankan pemerintah agar terus memperbesar penerimaan dari sektor pajak dan nonpajak, sebab potensi pajak selama ini belum tergarap optimal, apalagi produksi minyak juga tidak lagi mencukupi memenuhi kebutuhan domestik sehingga harus impor. Akibatnya, pemerintah memberi subsidi harga BBM sangat besar.
Pemerintah, katanya, juga harus lebih serius mengawasi jumlah produksi minyak (lifting) karena bisa jadi antara yang dihasilkan dengan yang dilaporkan berbeda sehingga merugikan negara. (*/lin)
Tersedia di http://www.kapanlagi.com/h/0000245054.html
Langganan:
Postingan (Atom)