Minggu, 14 September 2008

Komentar di Media Massa

KUR Jateng Tembus Rp1,2 T

Thursday, 04 September 2008

SEMARANG(SINDO) – Realisasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) Jateng hingga Agustus mencapai lebih dari Rp1,279 triliun untuk 235.373 debitur UMKM.

Realisasi tersebut hanya meningkat 10% dibanding Juli 2008 yang mencapai Rp1,16 triliun. Data dari Dinas Koperasi dan UMKM Jateng mencatat PT Bank BRI menyalurkan KUR terbanyak yang mencapai Rp998,603 miliar atau hampir 78% dari total penyaluran KUR.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng Abdul Sulhadi mengatakan, pencapaian tersebut memang masih jauh dari keinginan sebab jumlah UMKM di Jateng saat ini mencapai Rp2,6 juta. Namun,Sulhadi mengakui tidak semua UMKM tersebut mampu dijangkau oleh para pelaku perbankan.

”Memang perbankan kan tidak dididik untuk menjadi kreditur bagi para UMKM gurem. Jadi,wajar kalau mungkin ada beberapa UMKM yang belum terlayani,” katanya kemarin. Sulhadi juga memaklumi sikap perbankan yang lebih berhati- hati dalam menyalurkan kredit. Para perbankan lebih nyaman untuk menawarkan kredit kepada para nasabah lamanya yang mempunyai track record yang baik.

”Mereka mungkin akan berpikir untuk menawarkan kredit itu kepada nasabah lama ketimbang mencari nasabah baru.Mereka mungkin juga tidak ingin menanggung risiko,”jelasnya. Melihat pertumbuhan penyaluran KUR yang tidak terlalu cepat, Sulhadi berencana akan menjalankan program akselerasi atau percepatan untuk membantu para UMKM yang bankable namun belum terfasilitasi.

”Kita berencana akan menggandeng bank daerah yang mempunyai kemampuan dan berkeinginan untuk ikut membantu permodalan UMKM.Tetapi secara teknis masih harus dipertimbangkan lagi,”paparnya. Selain menggandeng bank daerah, Sulhadi juga menyebut lembaga koperasi akan turut menyalurkan permodalan bagi UMKM. ”Mungkin ini bisa disebut dengan KUR lokal,”ungkapnya.

Pengamat ekonomi Undip Nugroho SBM memilih adanya lembaga penjamin kredit di tingkat daerah sebagai solusi untuk mempercepat penyaluran KUR kepada para UMKM. Menurutnya, dengan adanya lembaga tersebut, bank tidak lagi khawatir ada kredit macet.

”Baiknya badan penjamin kredit yang dulu pernah diwacanakan di Jateng segera direalisasikan karena itu sangat membantu para UMKM mendapatkan kredit,”terangnya. (sari septiyaningtias)

Rabu, 03 September 2008

Pemerintah Bakal Diributkan Spekulan Minyak Internasional

Jum'at, 15 Agustus 2008 17:19

Kapanlagi.com - Ulah spekulan yang menguasai perdagangan minyak internasional dikhawatirkan merepotkan pemerintah dan DPR pada tahun depan karena harus merevisi berulang kali asumsi harga minyak dalam RAPBN 2009, kata ekonom Undip Semarang, Nugroho SBM, Jumat (15/08/08).

"Tahun ini, 2008, memberi pelajaran penting bagi pemerintah dan DPR, betapa fluktuasi harga minyak bukan diakibatkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia," katanya menanggapi RAPBN 2009.

Pemerintah mengusulkan besaran asumsi harga minyak mentah dalam RAPBN 2009 senilai 140 dollar AS/barrel, seperti disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu di Jakarta, Kamis.

APBN Perubahan 2008 menetapkan asumsi harga minyak 95 dollar AS, sedangkan realisasi selama semester I 2008 senilai 109,4 dollar. Perkiraan selama semester II sebesar 145,0 dollar AS dan realisasi selama 2008 diperkirakan mencapai 127,2 dollar AS.

Nugroho mengemukakan, ketika APBN 2008 disusun, tidak ada yang memprediksi harga minyak mentah dunia bakal meroket hingga 150 dollar AS/barrel karena tidak ada faktor fundamental yang mendorong kenaikan harga secara luar biasa.

Ketegangan politik di sejumlah kawasan, termasuk Timur Tengah memang terjadi, namun menurut dia, hal itu merupakan masalah klasik dan bukan menyebabkan terganggunya distribusi dan eksplorasi minyak.

"Kenaikan beberapa waktu lalu murni akibat ulah spekulan dengan menciptakan informasi yang mendorong orang untuk memaklumi kenaikan harga minyak," katanya. Kala itu diembuskan isu bahwa harga minyak akhir tahun 2008 bisa menembus 200 dollar AS/barrel.

Menurut kandidat doktor itu, negara pengekspor minyak (OPEC) mengatakan produksi mereka mencukupi kebutuhan pasar dan selama itu juga tidak terjadi lonjakan permintaan.

"Saya kira pengusaha minyak dari AS dan Arab menjadi bagian dari skenario mendongkrak kenaikan harga minyak dunia, dan mereka meraih keuntungan besar," katanya.

Karena fluktuasi harga minyak tidak lagi hanya ditentukan oleh ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, katanya, maka sulit bagi pemerintah untuk menetapkan besar asumsi harga minyak pada RAPBN 2009.

Akan tetapi, katanya lagi, penetapan asumsi harus tetap dilakukan karena menjadi bagian dari penerimaan dan besaran subsidi harga BBM yang bakal digelontorkan kepada rakyat.

Ia menilai, asumsi harga minyak 140 dollar AS/barrel pada RAPBN 2009 merupakan angka yang moderat meskipun kecenderungan belakangan ini harga minyak melemah. Oleh karena itu, katanya, APBN 2009 nanti juga bisa mengalami beberapa kali perubahan.

Nugroho menyarankan pemerintah agar terus memperbesar penerimaan dari sektor pajak dan nonpajak, sebab potensi pajak selama ini belum tergarap optimal, apalagi produksi minyak juga tidak lagi mencukupi memenuhi kebutuhan domestik sehingga harus impor. Akibatnya, pemerintah memberi subsidi harga BBM sangat besar.

Pemerintah, katanya, juga harus lebih serius mengawasi jumlah produksi minyak (lifting) karena bisa jadi antara yang dihasilkan dengan yang dilaporkan berbeda sehingga merugikan negara. (*/lin)

Tersedia di http://www.kapanlagi.com/h/0000245054.html

Kamis, 03 Juli 2008

PEMROTES KENAIKAN HARGA BBM TAK PUNYA SOLUSI MEYAKINKAN

PEMROTES KENAIKAN HARGA BBM TAK PUNYA SOLUSI MEYAKINKAN
23 May 2008

Semarang, 23/5 (ANTARA) - Pemrotes rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak memiliki solusi meyakinkan untuk menutup defisit anggaran bila pemerintah tetap bertahan dengan harga BBM bersubsidi seperti saat ini.
Ekonom Universitas Diponegoro Semarang, Nugroho SBM ketika dihubungi di Semarang, Jumat, mengatakan, para politikus, aktivis LSM, dan kalangan lain menolak dengan alasan kenaikan harga BBM memberatkan rakyat.
"Akan tetapi mereka tidak memiliki solusi realistis untuk bisa keluar dari tekanan harga BBM dunia," katanya.
Menurut dia, harga minyak dunia yang terus melambung -- kini sudah menyentuh 135 dollar AS per barrel -- akan semakin menekan APBN 2008 apalagi Indonesia kini bukan lagi pengekspor murni minyak bumi.
Kebutuhan BBM per hari sekitar 1,4 juta barrel, sedangkan konsumsi domestik sekitar 927.000 barrel.
Ia mengingatkan, pemerintah membutuhkan solusi jangka panjang yang bisa menyelamatkan perekonomian nasional. "Kalau harga BBM bersubsidi tidak dinaikkan, beban subsidi pada APBN 2008 bisa mencapai lebih dari Rp200 triliun," katanya.
Solusi yang ditawarkan politikus, seperti menerapkan pajak progresif untuk mobil mewah, menurut dia, sama sekali tidak menjawab persoalan yang dihadapi APBN 2008 yang berada dalam bayang-bayang melambungnya harga BBM dunia saat ini.
"Saya melihat rencana menaikkan harga BBM sekarang sudah menjadi isu dan komoditas politik. Mereka mencoba mengambil keuntungan politis dengan rencana itu tanpa menawarkan solusi realistis dalam menghadapi situasi sulit seperti sekarang ini," katanya.
Bila para politikus memang tidak menghendaki pemerintah mengurangi subsidi BBM, menurut dia, mereka seharusnya tegas menolak mengikuti studi banding dan kunjungan kerja yang memakan biaya amat besar.
Akan tetapi di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang, para wakil rakyat tetap melakukan studi banding dengan hasil yang tidak jelas.
"Banyak dana APBN maupun APBD untuk keperluan perjalanan dinas kalangan eksekutif dan legislatif. Inilah yang harus dipangkas," katanya.
Empati dari pejabat eksekutif dan legislatif tersebut, menurut dia, sampai sekarang tidak terlihat. Para politikus terus memilih berteriak keras menentang penolakan pengurangan subsidi BBM tanpa memberi solusi jitu.
Nugroho mengatakan, penghematan anggaran melalui penundaan proyek noninfrastruktur, seperti renovasi dan pembangunan gedung pemerintah yang baru, memang harus dilakukan namun jumlah anggaran yang bisa dihemat tidak akan terlalu besar.
"Sangat tidak bijaksana, bahkan berbahaya bila pemerintah sampai membatalkan pembangunan infrastruktur gara-gara anggarannya untuk menutup subsidi harga BBM yang terus membengkak," katanya.
Akhir pekan lalu (18/5) Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir mengusulkan pemotongan 30 persen gaji pejabat eksekutif dan legislatif, sebagai salah satu solusi agar pemerintah tidak menaikkan harga BBM.
APBN 2008 bakal menggelontorkan subsidi BBM Rp190,5 triliun dengan asumsi harga BBM 110 dollar AS per barrel, namun besaran subsidi bakal melambung di atas Rp200 triliun bila harga BBM dunia terus menanjak. ***8***


(U.A030/B/S011/S011) 23-05-2008 14:37:17

tersedia di

http://promojateng-bikk.com/berita.php?id=5463

Kamis, 26 Juni 2008

Komentar di Media: Padat Karya Lebih Bermanfaat

Program Padat Karya Lebih Bermartabat
oleh ant pada 13-05-2008

SEMARANG (Joglosemar): Program pengurangan dampak terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kepada keluarga miskin sebaiknya tidak diwujudkan dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT), tetapi berupa padat karya yang lebih bermartabat.
”Pemberian BLT tidak mendidik. Orang merasa terhormat mendapatkan uang karena bekerja, tidak menerima begitu saja,” kata pengamat ekonomi Universitas Diponegoro Semarang Nugroho SBM ketika diminta tanggapan rencana pemerintah menaikkan harga BBM, di Semarang, Minggu (11/5).
Menurut dia, pemerintah saat ini memang menghadapi dilema. Di satu sisi kenaikan harga minyak dunia bakal membengkakkan anggaran subsidi APBN 2008, sementara di sisi lain beban rakyat bertambah berat bila pemerintah mengurangi subsidi dengan konsekuensi menaikkan harga BBM.
Kelompok masyarakat bawah, kata Nugroho, memang harus diselamatkan dengan program jaring pengaman sosial, misalnya berupa program padat karya yang pernah ditempuh pada awal krisis tahun 1998.
“Program padat karya memberi efek ganda, yakni menambah pendapatan keluarga miskin dan membaiknya sarana serta prasarana lingkungan peserta program padat karya itu berada,” katanya.
Selain itu, kata dia, program padat karya juga memperkecil kecemburuan orang lain yang kondisi ekonominya pas-pasan namun tidak dijangkau program jaring pengaman sosial tersebut.
Menurut dia, BLT hanya cocok diberikan kepada orang-orang yang secara fisik tidak lagi kuat bekerja, seperti manula atau mereka yang mengalami cacat fisik sehingga tidak mampu mengikuti program padat karya.
Bila pemerintah nantinya memberikan BLT Rp 100.000 per bulan, kata Nugroho, itu berarti sebulan mereka hanya terikat mengikuti program padat karya empat hari dengan asumsi sehari dibayar Rp25.000. ”Sisa waktu lainnya digunakan bekerja seperti biasa,” katanya.

Kamis, 05 Juni 2008

Ekonomi 2008: Harap-Harap Cemas

Ekonomi 2008: Harap-harap Cemas

* Oleh Nugroho SBM

MENEBAK perekonomian Indonesia di tahun 2008, menerbitkan semacam harap-harap cemas di hati. Betapa tidak? Di satu sisi bisa dipastikan bahwa harga minyak dunia bisa dipastikan akan terus naik sampai menembus 100 dolar AS per barel (ingat pada akhir November 2007 sudah mencapai 99 dolar AS per barel).

Di sisi yang lain, dalam cetak biru (blueprint) Pengelolaan Energi Nasional tahun 2005-2025, disebutkan bahwa setelah tahun 2007 pemerintah tidak akan memberikan subsidi lagi pada semua jenis bahan bakar minyak apakah itu minyak tanah, solar, ataupun premium.

Apa arti dua hal itu? Artinya adalah harga semua jenis energi di tahun 2008 mungkin akan dinaikkan oleh pemerintah. Alasannya jelas pertama karena ada landasan cetak birunya dan kedua ada legitimasi yang secara tidak sengaja datang dari kenaikan harga minyak dunia.

Memang pemerintah belum menegaskan apakah cetak biru Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025 akan dilaksanakan atau tidak. Karena sampai saat ini Peraturan Presiden No 9/ 2006 tentang Perubahan atas Perpres No 55/2005 tentang Harga Jual Eceran Bahan Bakar dalam Negeri masih berlaku. Dalam Perpres itu harga jual eceran bahan bakar masih disubsidi.

Tetapi siapa bisa memegang arah kebijakan pemerintah yang biasanya penuh kejutan? Langkah-langkah kebijakan pemerintah akhir-akhir inipun bisa dibaca sebagai arah pencabutan subsidi itu. Ada program konversi minyak tanah ke elpiji yang amburadul. Ada kenaikan harga solar untuk industri. Ada juga desas-desus tentang kenaikan harga premium. Di tengah masyarakat pun suara-suara cemas akan kenaikan harga bahan bakar ini sudah mulai tersebar dan menimbulkan apatisme tentang sikap mereka dalam memilih di Pemilu 2009.

Dampak Kenaikan Bahan Bakar

Jika seandainya memang harga bahan bakar memang dinaikkan di tahun 2008, maka dampaknya bagi ekonomi sangatlah buruk. Kita masih ingat bagaimana kenaikan harga BBM di bulan Oktober 2006 masih dirasakan dampaknya sampai sekarang khususnya bagi masyarakat miskin.

Simulasi yang dilakukan oleh Indef (Insitute Development of Economics and Finance) atas dasar data Statistik Industri 2000-2004 terbitan BPS terhadap dampak kenaikan harga BBM terhadap sektor industri menunjukkan hal berikut (Kompas, 22 Desember 2007). Dengan asumsi kenaikan rata-rata harga BBM 30 persen per tahun maka dampaknya: pertama, harga barang jadi atau ouput akan naik rata-rata 4,6 persen. Kedua, jumlah atau unit barang jadi atau output yang diproduksi rata-rata akan berkurang 2 persen.

Dua dampak tersebut tentu membawa ikutan. Kenaikan harga barang akan membawa dampak ikutan berupa penurunan daya beli masyarakat yang pada akhirnya akan menambah jumlah penduduk miskin.

Sementara itu dampak kedua yaitu pengurangan produksi oleh perusahaan akan membawa dampak ikutan berupa naiknya pengangguran sebab pengurangan dalam produksi akan diikuti dengan pengurangan tenaga kerja. Padahal saat ini saja pengangguran mencapai 16 sampai 17 persen dari penduduk usia kerja. Bandingkan tingkat pengangguran normal yang di teks-teks buku ekonomi makro biasanya hanya sekitar 5 sampai 10 persen.

Dilihat dari dampak yang berat dari kenaikan harga bahan bakar maka hendaknya pemerintah mempertimbangkan benar jika akan menaikkan harga seluruh bahan bakar di tahun 2008 seperti yang tercantum dalam cetak biru Pengelolaan Energi Nasianal 2005 2025.

Masih banyak alternatif kebijakan yang bisa ditempuh. Pertama, mengejar wajib pajak nakal khususnya para pengusaha besar (konglomerat) yang selama ini lari dari kewajiban membayar pajak dalam jumlah yang benar. Penerimaan dari pajak ini bisa digunakan untuk mensubsidi bahan bakar yang bagaimanapun sampai saat ini masih strategis dalam perekonomian Indonesia. Ingat, subsidi bukanlah suatu "kejahatan" dalam kebijakan ekonomi. Di mana pun termasuk di negara-negara maju, pemberian subsidi masih tetap dilakukan.

Kedua, di samping penerimaan pajak yang digenjot lewat pengejaran wajib pajak yang nakal, pemerintah dapat menggali penerimaan alternatif dengan memakai kreativitas. Misalnya saja dengan menaikkan biaya naik banding. Selama ini penjahat kelas kakap yaitu para koruptor kelas kakap dengan mudah melakukan naik banding dalam proses pengadilan karena biayanya sangat murah.

Dengan biaya naik banding yang tinggi akan ada dua keuntungan sekaligus. Pertama, biaya naik banding yang tinggi itu merupakan penerimaan pemerintah yang besar. Kedua, para penjahat kelas kakap akan jera dan tidak mudah melakukan naik banding.

Ketiga, perlunya semua rekening non-budgeter dimasukkan ke dalam APBN secara resmi. Selama ini banyak sekali penerimaan di rekening "liar" di luar APBN. Jika semua penerimaan "liar" itu dimasukkan dalam APBN maka akan menambah kemampuan pemerintah untuk melakukan subsidi. Semoga saja pemerintah dengan kebijakan alternatif ini tidak menaikkan harga BBM, sehingga terjawablah harap-harap cemas masyarakat.

Persiapan Pemilu 2009

Harap-harap cemas yang lain adalah ekonomi di tahun 2008, akan dipengaruhi oleh suhu politik yang memanas karena antarpara pelaku politik sudah memulai ancang-ancang untuk bisa merebut posisi pada pemilihan umum di tahun 2009. Masalah ini sebagian sudah disinggung dalam tulisan Didik J Rachbini "Ekonomi Politik 2008" (Suara Merdeka, 22 Desember 2007).

Tetapi tulisan Didik J Rachbini tersebut hanya menyinggung aspek politik menjelang Pemilu 2009 yang akan mempengaruhi ekonomi Indonesia 2008 hanya dari sisi gesekan antarelite politik. Menurut Didik pandangan optimistis menyatakan bahwa kondisi akan aman-aman saja karena kita sudah punya pengalaman reformasi dan gejolak pilkada di berbagai daerah, yang ternyata membuat para pelaku bisnis sudah mulai biasa dengan gejolak politik.

Sedangkan pandangan pesimistis menyatakan bahwa akumulasi kekecewaan publik pada kinerja pemerintah yang lamban dalam kebijakan ekonomi akan benar-benar membuat suhu politik memanas, dan akan mempengaruhi lingkungan dunia usaha di tahun 2008.

Satu haI yang tidak disinggung dalam tulisan Didik tersebut adalah bahwa para pelaku politik khususnya yang sekarang sedang berkuasa akan tetap berusaha berkuasa kembali dengan memenangkan pemilu tahun 2009. Berbagai teori ekonomi politik dengan mudah menjelaskan hal itu.

Pertama,teori Pilihan Rasional James Buchanan yang menyatakan bahwa seseorang terjun ke dunia politik karena ia seorang rasional yang memperjuangkan kepentingan pribadinya. Kepentingan pribadi tersebut tidak selalu bertentangan dengan kepentingan umum.

Misalnya jika seorang anggota DPRD menyetir mobil melewati jalan yang rusak kemudian ia mengusulkan kepada walikota supaya jalan itu diperbaiki maka perbaikan jalan itu juga menguntungkan masyarakat umum.

Kedua, teori Rasionalitas Terbatas Herbert Simon. Teori ini menyatakan, kepentingan pribadi seorang politikus dalam perjuangan politiknya akan dibatasi oleh penilaian masyarakat akan kinerjanya. Kinerja yang dimaksud adalah apakah ia cukup memperjuangkan kepentingan masyarakat yang diwakilinya atau tidak.

Namun, yang penting kedua teori tersebut menjelaskan bahwa kepentingan pribadi para politikus yang sekarang berkuasa untuk memenangkan kembali Pemilu 2009 akan membuat arah kebijakan makro ekonomi 2008 menjadi tidak on the track. Yang dimaksud tidak on the track adalah kebijakan ekonomi akan memihak kepada rakyat (populis) dalam rangka menarik simpati masyarakat. Tetapi kebijakan itu sifatnya instan dan keluar dari jalur perencanaan ekonomi jangka panjang. Akibatnya stabilitas ekonomi makro yang mulai terjaga bisa terganggu. Kebijakan struktural jangka panjang seperti penanggulangan kemiskinan dan pengangguran juga bisa terganggu. Kalau hal itu terjadi maka kepastian bagi dunia usaha dan pemulihan ekonomi Indonesia yang mendasar iuga akan terganggu. Ini yang perlu diawasi dan diwaspadai di tahun 2008.(11)

-- Nugroho SBM, staf pengajar FE Undip Semarang
(pernah dimuat Harian Suara Merdeka 28 Desember 2007)

Selasa, 03 Juni 2008

Solusi Kenaikan Harga Kedelai

Solusi Kenaikan Harga Kedelai

Oleh Nugroho SBM

Kenaikan harga kedelai dari Rp 5.500,- menjadi Rp 7.330,- telah membuat banyak perajin tempe dan tahu menjerit, antara lain yang dialami oleh perajin di Kabupaten Boyolali. Ada empat siasat yang ditempuh oleh para perajin yaitu: pertama, mengurangi kapasitas produksi; kedua, memperkecil ukuran tempe atau tahu; ketiga, mencampur bahan baku dengan pepaya, jagung atau singkong; dan keempat, menaikkan harga jual tempe atau tahu. Dan banyak perajin setelah menerapkan keempat strategi ini memilih untuk menutup usahanya (Joglosemar, 15 /1).
Menanggapi hal tersebut kebijakan jangka pendek yang diambil pemerintah adalahdengan membebaskan bea masuk (bea impor) kedelai. Diharapkan dengan pembebasan bea-masuk tersebut maka pasokan kedelai di dalam negeri akan bertambah sehingga akan menurunkan harga di dalam negeri. Langkah ini menurut penulis sudah benar dan strategis karena selama ini 70 sampai 80 persen kedelai untuk bahan baku produksi tahu dan tempe masih diimpor. Amerika menjadi pengimpor terbesar kedelai ke Indonesia sebanyak 60 % dari total kebutuhan.
Langkah lain yang ditempuh pemerintah adalah jika perlu mensubsidi harga kedelai yang dijual di dalam negeri. Kebijakan subsidi dalam jangka pendek untuk meredam kenaikan harga ini, menurut penulis juga tepat. Hal tersebut tidak melanggar kesepakatan perdagangan bebas dalam WTO (World Trade Organization) yang telah ditandatangani oleh Indonesia karena kedelai termasuk komoditi yang bisa disubsidi. Diperbolehkannya kedelai disubsidi karena di banyak negara, kedelai masih merupakan komoditas yang strategis atau menguasai hajat hidup orang banyak. Dari kedelai bisa dihasilkan berbagai macam komoditi seperti susu, kecap, berbagai makanan, dan bahkan di negara-negara maju sudah bisa sebagai bahan baku minyak nabati yang dapat dikonsumsi oleh banyak orang.

Kebijakan Lain

Namun hendaknya diingat bahwa kebijakan pembebasan bea masuk dan subsidi harga yang ditempuh pemerintah merupakan kebijakan pragmatis dalam jangka pendek. Diperlukan kebijakan-kebijakan lain untuk melengkapinya baik dalam jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Pertama, penertiban para distributor maupun produsen tahu dan tempe yang berspekulasi. Dari berbagai liputan media massa, ternyata terungkap bahwa banyak distributor atau pedagang besar kedelai dan juga pengusaha tahu dan tempe yang diindikasikan melakukan spekulasi dengan cara menimbun kedelai. Untuk mengatasi spekulasi dengan cara menimbun ini, sudah ada berbagai aturan misalnya ada Undang-Undang Pergudangan, ada aturan jumlah stok atau persediaan yang tidak boleh melebihi 30 persen dari omzet penjualan, dan aturan-aturan lain. Masalahnya memang tinggal bagaimana pemerintah dan aparat kepolisian menegakkan aturan-aturan tersebut secara konsisten.
Kedua, perlu didefinisikan kembali atau diredefinisi tentang apa yang termasuk ke dalam barang-barang kebutuhan pokok. Sebagaimana diketahui, barang-barang yang termasuk ke dalam barang-barang kebutuhan pokok harganya selalu dipantau dan diawasi oleh pemerintah. Jika terjadi kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok ini maka pemerintah akan menstabilkannya kembali dengan melakukan operasi pasar yaitu menjual stok ke pasaran.
Kedelai sampai saat ini belum masuk ke dalam kategori barang kebutuhan pokok. Tetapi dengan mengamati dampak yang ditimbulkan antara lain adalah kenaikan harga tahu dan tempe – padahal tahu dan tempe dikonumsi masyarakat banyak khususnya kelas menengah ke bawah – maka sudah sepantasnya kalau pemerintah memasukkan kedelai ini sebagai barang kebutuhan pokok atau kalau tidak boleh disebut barang kebutuhan pokok disebut saja sebagai barang strategis. Barang strategis ini hendaknya juga dikendalikan harganya.

Jangka Panjang

Dalam jangka panjang, perlu dilakukan kebijakan strategis. Pertama, mendorong kenaikan produksi di dalam negeri dengan cara memberikan insentif bagi petani yang mau menanam kedelai. Sebenarnya insentif paling sederhana bagi petani adalah harga yang menarik. Momentum sekarang ini dimana harga kedelai sangat tinggi, sebenarnya merupakan saat yang tepat bagi pemerintah untuk mengkampanyekan gerakan menanam kedelai. Hanya masalah yang timbul adalah kedelai merupakan tanaman sub tropis yang butuh udara dingin. Jadi tidak semua daerah di Indonesia bisa ditanami kedelai. Oleh karena itu menjadi tugas Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pertanian untuk melakukan penelitian agar kedelai bisa ditanam di udara panas di seluruh wilayah Indonesia. Apakah hal ini bisa dilakukan? Penulis yakin bisa. Ada contoh yang pernah terjadi, meskipun bukan dalam hal tanaman dan pelakunya pun bukan pemerintah melainkan petani biasa. Contoh tersebut adalah kesuksesan Pak Mujahir untuk melakukan adaptasi terhadap ikan – yang kemudian dikenal dengan ikan mujahir – dari ikan laut menjadi ikan air payau dan akhirnya menjadi ikan air tawar.
Kebijakan kedua, mencari pengganti bahan baku untuk tahu dan tempe selain kedelai yang harganya lebih murah. Lagi-lagi kita bisa mencontoh kreatifitas para produsen makanan misalnya bisa menciptakan keripik rasa gadung dari keripik singkong. Inovasi tersebut lahir karena gadung harganya lebih mahal, pengolahannya lebih sulit, dan bila tidak hati-hati mengolah maka gadung bisa beracun.

Penulis adalah Staf Pengajar
Jurusan IESP FE Undip Semarang
(Tulisan ini pernah dimuat di Harian Joglosemar tanggal 17-1-2008)
atau silahkan link ke http://harianjoglosemar.com/index.php?option=com_content&task=view&id=4023&Itemid=1